Articles by "Petroleum"
Showing posts with label Petroleum. Show all posts






Selected References

The following references were used by the team in the preparation of this guide. The IGU wishes to thank and record its appreciation to the respective publishers and organisations :
  1. NATURAL GAS Physical and Engineering Data, Shell Companies in Malaysia, March 1983
  2. Natural Gas Equivalents, Shell International Gas Limited, 1992
  3. Natural Gas Fundamentals by Malcolm W.H. Peebles, Shell International Gas Limited, 1992
  4. The Alphatania Natural Gas Glossary of Terms & Measurements and Natural Gas Conversion Tables, Alphatania Ltd.
  5. The Fundamentals of the Natural Gas Industry, The Petroleum Economist and Gas World International, October 1995
  6. Fundamental of Natural Gas: An International Perspective, Vivek Chandra, September 2006
  7. Virtual Materials Group (VMG) Process Simulator, commercially available software
  8. LNG Industry in 2010, The International Group of Liquefied Natural Gas Importers (GIIGNL)
  9. Gas and LNG Industry Glossary, Alphatania Training, http://www.gasstrategies.com/industry-glossary
  10. Santos, Conversion Calculator, http://www.santos.com/conversion-calculator.aspx
  11. Conversion Factors, BP, http://www.bp.com/conversionfactors.jsp
  12. Online Conversion, http://www.onlineconversion.com/
  13. OECD, Glossary of Statistical Terms, http://stats.oecd.org/glossary/detail.asp?ID=4109
  14. General Facts on LPG, LPGSOLUTIONS, http://www.lpg-solutions.co.uk/facts.html
  15. Standards, The American Society for Testing and Materials (ASTM) International, http://www.astm.org/Standard/index.shtml


(Sumber : International Gas Union)

https://www.igu.org/


The immediate challenge facing policy makers and the global energy industry is cooperating in the development of energy systems that meet this demand growth. This must be done in an economically efcient way that ofers the best path tackling both, climate change and the detrimental health impacts of poor air quality, while fuelling economic growth.

Natural gas is clean, abundant, and accessible virtually anywhere in the world. New sources of natural gas from conventional and unconventional deposits, in combination with new and existing pipelines, and the rapid growth of Liquefed Natural Gas (LNG) infrastructure, are greatly enhancing supply security, fexibility, and afordability.

Natural gas is the fuel for today and for the future.




(Sumber : International Gas Union)

https://www.igu.org/



Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua. 


István Lakatos & Julianna Lakatos-Szabó :
Global Oil Demand And Role Of Chemical EOR Methods In The 21st Century

Silakan Bagi yang Ingin Download eeBook :


Semoga Bermanfaat
   


Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua.


C. S. Matthews & D. G. Russell : Pressure Build Up And Flow Tests In Wells

Silakan Bagi yang Ingin Download eBook :


Semoga Bermanfaat




Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua.


James G. Speight : Chemical Process & Design Handbook

Silakan Bagi yang Ingin Download eBook :


Semoga Bermanfaat




Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua. 


Dr. Ir. Dedy Kristanto M.Sc : Perkiraan Cadangan Reservoir

Silakan Bagi yang Ingin Download Materi :


Semoga Bermanfaat




Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua.


Drew Myers : Surfactant Science And Technology - Third Edition

Silakan Bagi yang Ingin Download eBook :


Semoga Bermanfaat




Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua.


Tarek Ahmed - Advanced Reservoir Engineering

Silakan Bagi yang Ingin Download eBook :


Semoga Bermanfaat




Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua.


Chi U. Ikoku - Natural Gas Production Engineering

Silakan Bagi yang Ingin Download eBook :


Semoga Bermanfaat




Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua.


Silakan Bagi yang Ingin Download Materi :


Semoga Bermanfaat




Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua. 


Tarek Ahmed : Reservoir Engineering Handbook - Third Edition

Silakan Bagi yang Ingin Download eBook :


Semoga Bermanfaat




Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua.


John Lee - Well Testing

Silakan Bagi yang Ingin Download eBook :


Semoga Bermanfaat




Berikut ini akan saya bagikan Petroleum Engineeering eBook dalam format PDF, yang saya dapatkan selama saya menyelesaikan Program Studi S1 Teknik Perminyakan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Silakan bagi anda yang ingin mempelajari secara online maupun secara offline sudah saya berikan link download dibawah ini. Semoga bisa menjadi materi pembelajaran yang berguna bagi anda semua.


Hussain Rabia - Well Engineering & Construction

Silakan Bagi yang Ingin Download eBook :


Semoga Bermanfaat




Papper Petroleum Engineering

Analisa Penanggulangan Problem Pipa Terjepit Pada Pemboran Vertikal Sumur ASDJ-81ST Lapangan JOB Pertamina - Talisman (OK) Ltd


ABSTRAK

Operasi pemboran tidak selalu berjalan lancar, sering terjadi masalah yang mengganggu operasi pemboran, dan salah satu masalah operasi pemboran sumur ASDJ-81ST adalah pipa terjepit yang terjadi sebanyak 2 (dua) kali, yaitu pada rangkaian terjepit I terjadi saat operasi cabut rangkaian pipa bor dari kedalaman 2975.721 ft trayek 12¼” vertical drilling, dan pada rangkaian terjepit II terjadi saat operasi cabut rangkaian pipa bor dari kedalaman 1916.010 ft MD trayek 12¼” side track drilling.

Metodologi yang digunakan pada penulisan skripsi ini antara lain yaitu analisa penyebab dan penanggulangan pipa terjepit. Analisa penanggulangan pipa terjepit ini dilakukan terlebih dahulu dengan melakukan analisa penyebab pipa terjepit, yang ditinjau dari lima aspek, yaitu aspek lumpur pemboran, aspek lithologi formasi, aspek geometri lubang bor, aspek rangkaian pipa bor, serta aspek parameter pemboran (WOB), sehingga diperoleh langkah-langkah yang tepat untuk menanggulangi terjadinya problem pipa terjepit pada rangkaian terjepit I dan rangkaian terjepit II.

Berdasarkan hasil analisa maka dapat disimpulkan bahwa problem yang terjadi pada rangkaian terjepit I adalah mechanical sticking yang diindikasikan dari tidak bisa dilakukannya sirkulasi lumpur pada saat operasi cabut rangkaian pipa bor, dimana mechanical sticking ini disebabkan runtuhnya dinding lubang bor karena penurunan tinggi kolom lumpur yang diakibatkan dari terjadinya problem loss circulation sebelum terjadinya problem pada rangkaian terjepit I, sehingga lumpur tidak bisa menahan dinding lubang bor yang mudah runtuh, sedangkan problem yang terjadi pada rangkaian terjepit II adalah mechanical sticking dimana mechanical sticking ini disebabkan oleh cutting yang tidak terangkat optimum, tetapi sirkulasi dengan menaikkan rate, tekanan pompa, dan menggunakan lumpur Hi-Vis pada saat terjadinya rangkaian terjepit II ini bisa dilakukan untuk dapat membebaskan rangkaian pipa yang terjepit tersebut.


DESKRIPSI ALTERNATIF

Operasi pemboran yang dilakukan tidak selalu berjalan lancar seperti yang diharapkan, adakalanya terjadi masalah yang mengganggu operasi pemboran dan sangat merugikan. Kerugian ini meliputi kerugian terhadap waktu, peralatan, serta biaya operasional pemboran. Salah satu masalah dalam operasi pemboran sumur ASDJ-81ST adalah pipa terjepit (pipe sticking), yang maksudnya adalah pipa tidak dapat digerakkan didalam lubang (tidak dapat diputar dan diangkat), dan ada yang dapat diputar namun tidak dapat diangkat, dan akibat dari terjepitnya pipa adalah terhambatnya operasi pemboran dan meningkatnya biaya-biaya tambahan guna mengatasi pipa terjepit. Permasalahan pipa terjepit pada pemboran sumur ASDJ-81ST ini membutuhkan beberapa analisa, dan dalam hal ini problem pipa terjepit sumur ASDJ-81ST terjadi 2 (dua) kali yaitu rangkaian terjepit I pada trayek 12¼” vertical drilling, dan rangkaian terjepit II pada trayek 12¼” side track drilling, dan untuk memudahkan dalam upaya pembebasan rangkaian pipa terjepit terlebih dahulu harus ditentukan mekanisme jepitan yang terjadi, sehingga dapat dilakukan upaya pembebasan rangkaian pipa terjepit dengan metode yang benar, serta diharapkan untuk tidak melakukan penanggulangan dengan metode yang salah yang akan membutuhkan waktu yang lama serta memerlukan biaya yang cukup mahal.

1. Penentuan Mekanisme Jepitan Sumur ASDJ-81ST

Penentuan mekanisme jepitan rangkaian terjepit I dan rangkaian terjepit II sumur ASDJ-81ST ini dilakukan dengan meninjau dari lima aspek mekanisme penyebab terjadinya rangkaian pipa terjepit yaitu antara lain aspek lumpur pemboran, aspek lithologi formasi, aspek geometri lubang bor, aspek rangkaian pipa pemboran, aspek parameter pemboran (WOB), dan dari beberapa aspek tersebut mempunyai indikasi jepitan dan penanggulanganya yang berbeda. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing aspek mekanisme penyebab terjadinya pipa terjepit yang digunakan untuk dapat menentukan mekanisme jepitan pada rangkaian terjepit I dan rangkaian terjepit II.

1.1. Mekanisme Jepitan Rangkaian Terjepit I

Pada aspek lumpur pemboran berdasarkan hasil dari perhitungan diketahui bahwa besarnya perbedaan tekanan (DP) antara Ph dan Pf adalah 30.503 psi. Berdasarkan ketentuan dari H.C.H. Darley, bahwa batas perbedaan antara tekanan hidrostatik dan tekanan formasi yang diijinkan yaitu ΔP ≤ 200 psi, sehingga pada rangkaian terjepit I sumur ASDJ-81ST tidak terjadi differential pipe sticking.

Pada aspek lithologi formasi berdasarkan data operasi pemboran dan hasil dari side wall coring yang dilakukan pada formasi dan lapisan yang ditembus selama operasi pemboran berlangsung antara lain yaitu batu lempung (claystones), batu bara (coals), batu pasir (sandstones), batu serpih (siltstones). Berdasarkan data-data yang diperoleh dari mud logging dapat disimpulkan bahwa terjadinya problem rangkaian terjepit I pada kedalaman 596 m (1955.375 ft) terdapat pada lapisan siltstones bercampur coals seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.4. (BAB IV), dimana lapisan siltstones bercampur coals bersifat porous permeable, serta tingkat kompaksi batuan pada lapisan ini rendah sehingga kemungkinan terjadinya pipa terjepit karena formasinya mudah gugur jika mud properties yang digunakan maupun operasional pemboran yang dilakukan tidak tepat.

Terjadinya problem pipa terjepit pada kedalaman 596 m (1955.375 ft) diawali dengan terjadinya loss circulation yang diperkirakan pada kedalaman 634 m (2080.052 ft) - 907 m (2975.721 ft), yaitu pada lapisan siltstones, yang terjadi pada saat operasi cabut rangkaian pipa bor (pull out of hole), dimana problem loss circulation ini disebabkan oleh kenaikan tekanan hidrostatik lumpur pemboran secara tiba-tiba sebagai akibat dari surge effect yang menekan dan merekahkan formasi batuan yang terjadi karena operasional mencabut rangkaian pipa bor (pull out of hole) yang terlalu cepat melebihi batas kecepatan cabut rangkaian pipa bor yang diijinkan yaitu melebihi 60 ft per menit.

Loss circulation tersebut mengakibatkan penurunan tinggi kolom lumpur pemboran pada lubang annulus sehingga lumpur tidak bisa menahan dinding lubang bor yang mudah runtuh yang terdapat pada lapisan caving coals, dimana caving coals ini bersifat mudah gugur karena memiliki tingkat kompaksi batuan yang cukup rendah, sehingga guguran dari caving coals ini bisa menyebabkan rangkaian pipa bor terjepit. Loss circulation tersebut juga mengakibatkan tidak bisa dilakukannya sirkulasi lumpur yang menyebabkan cutting tidak terangkat dan mengendap pada lubang bor sehingga pada rangkaian terjepit I juga disebabkan oleh pengendapan cutting yang menyumbat lubang bor.

Upaya penanggulangan loss circulation ini dilakukan dengan menurunkan rate dan tekanan pompa, serta dengan menurunkan mud weight dari 9.4 ppg menjadi 9.0 ppg, dan juga dengan melakukan sirkulasi menggunakan LCM (Lost Circulation Material), akan tetapi problem loss circulation tersebut tidak berhasil diatasi sehingga dilakukan back off pada rangkaian terjepit I dan untuk selanjutnya dilakukan operasi pemboran trayek 12¼” side track drilling.

Pada aspek geometri lubang bor yang sangat berpengaruh adalah dog leg yaitu pada saat pembentukan arah lubang bor pada operasi pemboran berarah, apabila besarnya dog leg survey melebihi dog leg severity pada beberapa titik interval kedalaman maka bisa menyebabkan terjadinya problem key seat. Pada rangkaian terjepit I aspek geometri lubang bor ini tidak diperhitungkan karena rangkaian terjepit I terjadi pada saat operasi cabut rangkaian pipa pemboran trayek 12¼” vertical drilling dari kedalaman 907 m (2975.721 ft).

Pada aspek rangkaian pipa pemboran terdapat beberapa hal yang perlu diperhitungkan, diantaranya adalah tentang penggunaan komponen rangkaian dari BHA yaitu seperti penggunaan rangkaian alat pemutar dan penggunaan drillcollar, dimana penggunaan drillcollar ini meliputi ukuran dari drillcollar serta pemilihan dari drillcollar itu sendiri, dan selain daripada itu pemakaian stabilizer juga sangat berpengaruh untuk menahan rangkaian dari drillstring agar tetap stabil. Pada saat terjadinya problem rangkaian terjepit I rangkaian pipa pemboran yang digunakan adalah 4×DC 8” + Jar + 8×DC 6¼” + 15×HWDP + DP 5” XOH, dan rangkaian pipa pemboran yang terdapat pada kedalaman 596 m (1955.375 ft) adalah HWDP, sehingga besar kemungkinan pada saat terjadinya problem rangkaian terjepit I ini rangkaian pipa pemboran terjepit pada HWDP.

Pada aspek parameter pemboran yang perlu diperhitungkan adalah dari weight on bit itu sendiri, pengaruhnya adalah apabila terjadi pemberian WOB yang terlalu besar, maka ada kemungkinan terjadinya problem pipa terjepit ini, dimana apabila besarnya WOBactual yang melebihi harga WOBmax, maka ada kemungkinan terjadinya pipa terjepit ini akibat dari bit yang terperosok kedalam formasi yang lunak. Pemberian harga WOB tersebut juga harus memperhitungkan formasi yang ditembus, sehingga bisa merencanakan besarnya WOB yang sesuai agar tidak terjadi problem pipa terjepit. Pada rangkaian terjepit I aspek parameter pemboran ini tidak diperhitungkan karena rangkaian terjepit I terjadi pada saat operasi cabut rangkaian pipa bor trayek 12¼” vertical drilling dari kedalaman 907 m (2975.721 ft), sehingga analisa penyebab terjadinya rangkaian terjepit I ini yang ditinjau dari aspek parameter pemboran bukan akibat dari terperosoknya bit.

1.2. Mekanisme Jepitan Rangkaian Terjepit II

Pada aspek lumpur pemboran berdasarkan hasil dari perhitungan diketahui bahwa besarnya perbedaan tekanan (DP) antara Ph dan Pf adalah 20.884 psi. Berdasarkan ketentuan dari H.C.H. Darley, bahwa batas perbedaan antara tekanan hidrostatik dan tekanan formasi yang diijinkan yaitu ΔP ≤ 200 psi, sehingga pada rangkaian terjepit II sumur ASDJ-81ST tidak terjadi differential pipe sticking.

Pada aspek lithologi formasi berdasarkan data operasi pemboran dan hasil dari side wall coring yang dilakukan pada formasi dan lapisan yang ditembus selama operasi pemboran berlangsung antara lain yaitu batu lempung (claystones), batu bara (coals), batu pasir (sandstones), batu serpih (siltstones). Berdasarkan data-data yang diperoleh dari mud logging dapat disimpulkan bahwa terjadinya rangkaian terjepit II pada kedalaman 395 m (1294.455 ft) MD terdapat pada lapisan siltstones bercampur coals, yang terjadi pada saat proses rangkaian pipa pemboran diangkat dari lintasan side track lubang bor (pull out of hole), dimana lapisan siltstones bercampur coals bersifat porous dan permeable, serta tingkat kompaksi dari batuan pada lapisan ini rendah sehingga kemungkinan terjadinya pipa terjepit karena formasinya mudah gugur jika mud properties yang digunakan maupun operasional pemboran yang telah dilakukan tidak tepat. Mud properties yang digunakan maupun operasional pemboran yang telah dilakukan tidak tepat karena tidak bisa mengangkat cutting coals secara optimum kepermukaan, dimana cutting yang perlahan mengendap dilubang bor ini menyumbat lubang bor dan menyebabkan rangkaian pipa pemboran terjepit, sehingga besar kemungkinan problem pipa terjepit pada rangkaian terjepit II ini yang terjadi pada saat operasi cabut rangkaian pipa pemboran trayek 12¼” side track drilling disebabkan oleh endapan cutting didalam lubang bor yang tidak optimum terangkat ke permukaan dan menjepit rangkaian pipa pemboran.

Pada aspek geometri lubang bor yang sangat berpengaruh adalah dog leg, apabila besarnya dog leg survey melebihi dog leg severity pada beberapa titik kedalaman bisa menyebabkan terjadinya mekanisme pipa terjepit yaitu key seat. Berdasarkan hasil perhitungan dari besarnya dog leg severity interval kedalaman 392.08 m (1286.35 ft) MD - 564.78 m (1852.95 ft) MD yang dapat dilihat pada Tabel IV-13 (BAB IV), menunjukkan bahwa tidak terjadi adanya key seat, karena besarnya harga dog leg survey pada interval kedalaman 392.08 m (1286.35 ft) MD - 564.78 m (1852.95 ft) MD tidak melebihi harga dog leg severity pada interval kedalaman tersebut, sehingga terjadinya pipa terjepit pada rangkaian terjepit II kedalaman 395 m (1295.900 ft) MD tersebut tidak disebabkan oleh adanya key seat.

Pada aspek rangkaian pipa pemboran terdapat beberapa hal yang perlu diperhitungkan, diantaranya adalah tentang penggunaan komponen rangkaian dari BHA yaitu seperti penggunaan rangkaian alat pemutar dan penggunaan drillcollar, dimana penggunaan drillcollar ini meliputi ukuran dari drillcollar serta pemilihan dari drillcollar itu sendiri, dan selain daripada itu pemakaian stabilizer juga sangat berpengaruh untuk menahan rangkaian dari drillstring agar tetap stabil. Pada saat terjadinya problem rangkaian terjepit II rangkaian pipa pemboran yang digunakan adalah A962M5640XP (1.5ᵒ) + Float Sub + 11⅛” String Stabilizer (2 Joints) + 8” SNMDC + Slim-Pulse Bat. On Bottom + 8” NMDC + 6⅝×4” XOS + 10×4½” HWDP + 4”×4½” XOS + Hydro-Mechanical Jar + 4½”×4” XOS + 5×4½” HWDP + 4½” 16.60 DPE New, dan rangkaian pipa pemboran yang terdapat pada kedalaman 395 m (1295.900 ft) adalah HWDP, sehingga besar kemungkinan saat terjadinya problem rangkaian terjepit II ini rangkaian pipa pemboran terjepit pada HWDP.

Pada aspek parameter pemboran yang perlu diperhitungkan adalah dari weight on bit itu sendiri, pengaruhnya adalah apabila terjadi pemberian WOB yang terlalu besar, maka ada kemungkinan terjadinya problem pipa terjepit ini, dimana apabila besarnya WOBactual yang melebihi harga WOBmax, maka ada kemungkinan terjadinya pipa terjepit ini akibat dari bit yang terperosok kedalam formasi yang lunak. Pemberian harga WOB tersebut juga harus memperhitungkan formasi yang ditembus, sehingga bisa merencanakan besarnya WOB yang sesuai agar tidak terjadi problem pipa terjepit. Pada rangkaian terjepit II aspek parameter pemboran ini tidak diperhitungkan karena rangkaian terjepit II terjadi pada saat operasi cabut rangkaian pipa trayek 12¼” side track drilling dari kedalaman 584 m (1916.010 ft), sehingga analisa penyebab terjadinya rangkaian terjepit II ini yang ditinjau dari aspek parameter pemboran bukan akibat dari terperosoknya bit.


2. Analisa Penanggulangan Problem Pipa Terjepit Sumur ASDJ-81ST

Berbagai usaha dilakukan untuk menanggulangi terjadinya problem pipa terjepit pada sumur ASDJ-81ST sehingga operasi pemboran sumur ASDJ-81ST dapat dilanjutkan kembali, usaha-usaha yang telah dilakukan tersebut antara lain meliputi penentuan letak titik jepit, penentuan free point indicator, serta sirkulasi dan regang lepas. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing usaha yang telah dilakukan untuk menanggulangi terjadinya problem pipa terjepit pada rangkaian terjepit I dan rangkaian terjepit II, dan diharapkan dari hasil analisa yang telah dilakukan dapat menjadi bahan acuan untuk rekomendasi pada operasi pemboran selanjutnya pada lapangan JOB Pertamina-Talisman (OK) Ltd.

2.1. Analisa Penanggulangan Rangkaian Terjepit I
2.1.1. Penentuan Letak Titik Jepit

Penentuan letak titik jepit ini dilakukan dengan metode tarikan (stretch method), yaitu pada rangkaian terjepit I ini dilakukan mula-mula dengan menarik rangkaian drillstring dengan overpull sebesar 25-30 klbs, lalu ditarik lagi dengan overpull sebesar 50-75 klbs, kemudian ditarik lagi dengan overpull yang lebih besar yaitu 100-200 klbs, dan akibat dari tarikan ini rangkaian drillstring tersebut mengalami perpanjangan sebesar 9.15”.

Pada hasil perhitungan diketahui bahwa letak titik pipa terjepit berada di 399.903 m (1312.02 ft) sedangkan panjang drillpipe pada kedalaman 596 m (1955.375 ft) adalah 298.52 m (979.3963 ft), jadi letak titik pipa terjepit tersebut berada dibawah drillpipe dan letaknya kemungkinan berada pada HWDP.

Besarnya overpull yang telah dilakukan sebesar 200 klbs pada problem rangkaian terjepit I tidak bisa mencabut rangkaian pipa pemboran yang terjepit karena besarnya overpull yang telah diberikan lebih kecil dari berat beban tarikan drillstring yaitu sebesar 243.424 klb, dan dari perhitungan besarnya tarikan yang direkomendasikan yaitu 365.136 klb untuk dapat menarik berat rangkaian terjepit I, dan yang perlu diperhatikan adalah tarikan rekomendasi tidak boleh lebih besar atau sama dengan tarikan maksimum yang diijinkan (476.646 klb), karena dengan asumsi bahwa rangkaian dari drillstring telah digunakan berulang kali sehingga kekuatan drillstring pasti telah berkurang dan bisa menyebabkan rangkaian putus.

Penentuan letak titik jepit pada rangkaian terjepit I menggunakan metode tersebut hasilnya merupakan suatu pendekatan saja, dan untuk lebih tepatnya sebaiknya menggunakan FPIT (Free Point Indicator Tools). JOB PertaminaTalisman (OK) Ltd menggunakan jasa Schlumberger untuk penentuan letak titik jepit menggunakan FPIT pada problem rangkaian terjepit I sumur ASDJ-81ST.

Metode penentuan letak titik jepit pada rangkaian terjepit I sumur ASDJ81ST menggunakan FPIT dilakukan dengan mengukur torque dan stretch pada rangkaian terjepit I. Penentuan letak titik jepit menggunakan metode ini dilakukan dengan melihat persentase pemberian torque dan stretch, dimana letak titik jepit berada pada rangkaian yang mendekati pembacaan 0% dari harga torque dan stretch karena pembacaan 0% tersebut mengindikasikan bahwa pada rangkaian tersebut tidak terpengaruh akibat adanya torque dan stretch yang diberikan. Pada Gambar 4.10. (BAB IV) menunjukkan bahwa rangkaian tidak terpengaruh oleh torque yang ditunjukkan pada angka 7 garis torque berwarna hijau yaitu pada kedalaman 348.44 m (1143.176 ft), dan rangkaian tidak terpengaruh oleh stretch yang ditunjukkan pada angka 9 garis stretch berwarna biru yaitu pada kedalaman 500 m (1640.42 ft). Pada Tabel IV-15. (BAB IV) menunjukkan hasil pengukuran FPIT pada rangkaian terjepit I, dimana posisi letak titik jepit pada rangkaian terjepit I ini pada No.4 yaitu pada kedalaman 348.44 m (1143.176 ft) yang terletak pada HWDP.

2.1.2. Sirkulasi Dan Regang Lepas

Apabila kondisi jepitan masih memungkinkan untuk dilakukan sirkulasi, maka sebaiknya dilakukan sirkulasi intensif untuk menanggulangi problem pipa terjepit, dan selama sirkulasi ini juga dilakukan perbaikan sifat-sifat fisik lumpur. Sirkulasi secara intensif yang dilakukan ini bertujuan untuk membersihkan lubang bor (pengangkatan cutting), jika ada kemungkinan runtuhan dinding lubang bor. Sebagai upaya menanggulangi pipa terjepit maka sirkulasi intensif terus dilakukan sambil regang lepas rangkaian dengan overpull hook loads max sebesar 365 klbs.

Pada rangkaian terjepit I yang terjadi pada kedalaman 596 m (1955.375 ft) diawali dengan terjadinya loss circulation pada kedalaman 634 m (2080.052 ft) 907 m (2975.721 ft), yang terjadi pada saat operasi cabut rangkaian pipa, dimana loss circulation ini disebabkan kenaikan tekanan hidrostatik lumpur pemboran secara tiba-tiba sebagai akibat dari surge effect yang menekan dan merekahkan formasi batuan yang terjadi karena operasional mencabut rangkaian pipa terlalu cepat melebihi batas kecepatan cabut rangkaian yang diijinkan (60 ft per menit).

Upaya sirkulasi dan regang lepas untuk membebaskan pipa terjepit pada rangkaian terjepit I tidak bisa dilakukan, yang telah dilakukan hanya meningkatkan overpull dari 50-75 klbs menjadi 100-200 klbs, tetapi rangkaian terjepit I ini tidak berhasil dibebaskan, karena overpull yang dilakukan sebesar 200 klbs tersebut lebih kecil dari berat beban tarikan rangkaian drillstring yang terjepit yaitu sebesar 243.424 klb, sehingga problem pada rangkaian terjepit I harus dilakukan back off dan selanjutnya dilakukan pemboran trayek 12¼” side track drilling. Tidak ada operasi fishing job setelah back off dilakukan karena rangkaian pipa yang tertinggal didalam lubang bor terlalu panjang, dan jika dilakukan fishing job bisa menyebabkan fishing tools terjepit lagi pada lubang bor.

2.2. Analisa Penanggulangan Rangkaian Terjepit II
2.2.1. Sirkulasi Dan Regang Lepas

Apabila kondisi jepitan masih memungkinkan untuk dilakukan sirkulasi, maka sebaiknya dilakukan sirkulasi intensif untuk penanggulangan problem pipa terjepit, dan selama sirkulasi ini juga dilakukan perbaikan sifat-sifat fisik lumpur. Sirkulasi secara intensif yang dilakukan ini bertujuan untuk membersihkan lubang bor (pengangkatan cutting), jika ada kemungkinan runtuhan dinding lubang bor. Pada rangkaian terjepit II yang terjadi pada saat operasi cabut rangkaian pipa bor dari kedalaman 584 m (1916.010 ft) trayek 12¼” side track drilling, lalu pipa terjepit pada kedalaman 395 m (1295.900 ft).

Pada rangkaian terjepit II ini upaya penanggulangannya dilakukan dengan menaikkan rate dan tekanan pompa, menaikkan mud weight dari 9.0 ppg menjadi 9.2 ppg, menggunakan lumpur HiVis untuk mengangkat cutting coals yang menyumbat lubang, sambil dilakukan regang lepas (jar down) untuk membebaskan rangkaian terjepit II dan berhasil.


KESIMPULAN


  1. Pada rangkaian terjepit I terjadi mechanical sticking yang diindikasikan dari tidak bisa dilakukannya sirkulasi lumpur saat operasi POOH, dimana problem ini disebabkan oleh penurunan tinggi kolom lumpur pada annulus karena loss circulation yang terjadi sebelum terjadinya rangkaian terjepit I sehingga lumpur tidak bisa menahan dinding lubang bor yang mudah runtuh, dan loss circulation ini juga menyebabkan cutting mengendap dan menyumbat lubang bor sehingga menyebabkan rangkaian pipa terjepit.
  2. Pada rangkaian terjepit I overpull yang telah dilakukan sebesar 200 klb tidak bisa mengangkat rangkaian terjepit I karena lebih kecil dari berat beban rangkaian terjepit I tersebut sebesar 243 klb. Berdasarkan asumsi rangkaian drillstring telah digunakan berulang kali sehingga kekuatan dari drillstring telah berkurang sehingga maximum overpull sebesar 476 klb tidak bisa dilakukan karena dapat menyebabkan rangkaian pipa bor putus.
  3. Pada rangkaian terjepit II terjadi mechanical sticking yang diindikasikan dari tidak bisa dilakukannya sirkulasi lumpur saat operasi POOH, dimana problem ini disebabkan oleh pengendapan cutting yang tidak optimum terangkat ke permukaan yang menyumbat lubang bor dan menyebabkan rangkaian pipa terjepit.
  4. Pada rangkaian terjepit II penanggulangan problem yang dilakukan dengan menaikkan mud weight dari 9.0 ppg menjadi 9.2 ppg, dan menggunakan lumpur Hi-Vis untuk dapat mengangkat endapan cutting yang menyumbat lubang bor, serta sambil melakukan upaya regang lepas rangkaian pipa (jar down) untuk membebaskan rangkaian pipa bor yang terjepit ini sehingga rangkaian pipa yang terjepit tersebut berhasil dibebaskan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bowes, Colin., Procter, Ray. (1997). Drillers Stuck Pipe Handbook, Ballater, Scotland: Guidelines & Drillers Handbook Credits.
  2. Charden Richard, S. (2007). Horizontal And Directional Drilling, Tulsa, Oklahoma: Petroskills, llc. Anogci Company.
  3. Hanna Iskander, S. (1998/1999). Causes Of Pipe Sticking And Effect Of Filter Cake Thickness On Sticking Force, Saudi Arabia: Saudi Aramco Journal Of Technology (Winter).
  4. Katarina, Simon., Nediljka, Gaurina-Medimurec., Borivoje, Pasic. (2005). Drilling Fluids Differential Sticking Tendency Determination, Zagreb, Croatia: Professional Paper, Volume 17, Str 31-35, University Of Zagreb, Faculty Of Mining, Geology And Petroleum Engineering, Pierottijeva.
  5. Mahto, Vikas., P.K., Chaudhary., V.P., Sharma. (2012). Study The Effect Of Additives On The Differential Pipe Sticking Caused By Water Based Drilling Fluid, Phuket, Thailand: International Journal Of Conference On Oil, Gas And Petrochemical Issues (ICOGPI 2012).
  6. Rabia, Hussein. (1986). Well Engineering And Construction, Oxford, UK: Graham & Trotman Publishing Company.
  7. Rubiandini, Rudi. (1993). Teknik Pemboran I-II, Bandung: Jurusan Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung.
  8. _____________. (2012). Data Geologi Blok Ogan Komering, Jakarta : JOB Pertamina-Talisman (OK) Ltd.
  9. _____________. (2010). Directional Drilling End Of Well Report ASDJ-81ST, Jakarta : Schlumberger.
  10. _____________. (2010). Drilling Fluid Final Well Report For ASDJ-81ST, Jakarta : JOB Pertamina-Talisman (OK) Ltd.
  11. _____________. (2010). Final Report ASDJ-81ST, Jakarta : JOB PertaminaTalisman (OK) Ltd.


Skripsi
Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
S1 Teknik Perminyakan
M. Bayu Ciptoaji
NIM 113 070 140
2014


Papper Petroleum Engineering

Estimasi Biaya Pemboran Dan Kapasitas Rig Yang Digunakan Berdasarkan Data Geologi Dan Karakteristik Reservoir



ABSTRAK

Dalam usaha perolehan minyak dan gas kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah pemboran. Untuk melakukan suatu pemboran perlu adanya suatu perencanaan yang tepat agar dapat dicapai suatu hasil yang optimum. Dalam suatu perencanaan pemboran perlu adanya studi geologi dan geofisik serta mempertimbangkan karakteristik reservoir untuk memperoleh data-data yang menunjang dalam proses perencanaan pemboran dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan biaya yang akan dikeluarkan.

Penghitungan kapasitas rig digunakan untuk efisiensi dari operasi pemboran yang akan dilakukan. Jika tidak tepat, akan menyebabkan rendahnya laju penembusan, keadaan formasi yang membahayakan dan tingginya biaya yang akan dikeluarkan karena penghitungan kapasitas rig yang tidak tepat. Penghitungan kapasitas rig mencakup seluruh sistem yang ada di operasi pemboran, mulai dari sistem angkat, sistem putar, sistem sirkulasi, dan sistem BOP. Dari penentuan horse power sistem angkat dan sistem putar dapat menggambarkan kebutuhan operasi yang harus dipenuhi. Kapasitas rig harus lebih besar dari kebutuhan operasi, sebab jika kapasitas rig yang digunakan lebih kecil dari kebutuhan operasi rig akan hancur karena tidak mampu menahan beban yang ditanggung.

Penghitungan biaya pemboran merupakan suatu langkah sebelum dilakukannya operasi pemboran. Biaya untuk perencanaan sumur disesuaikan sebagai perbandingan dari biaya pemboran sebenarnya. Sering kali hasil akhirnya adalah biaya pemboran yang melebihi jumlah yang diperlukan. Untuk itu, diusahakan mengurangi data-data yang tidak terlalu penting. Kurangnya pengeluaran biaya pada tahap awal dalam proses perencanaan sumur hampir selalu menimbulkan biaya pemboran menjadi lebih tinggi dari perkiraan. Disamping itu problem pemboran yang terjadi akan berpengaruh terhadap biaya pemboran yang akan dikeluarakan. Estimasi biaya pemboran dimulai dari pembuatan konstruksi sumur, hole geometri, casing program, program penyemenan, penghitungan biaya sewa rig sampai biaya work over. Dengan dilakukannya perhitungan kapasitas rig yang akan digunakan serta perencanaan biaya pemboran, diharapkan bisa mengoptimalkan dana yang ada untuk operasi pemboran. 


DESKRIPSI ALTERNATIF

Dalam suatu operasi pemboran, rig merupakan peralatan yang menunjang keberhasilan operasi pemboran. Rig disini berfungsi sebagai penyangga peralatan-peralatan pemboran yang harus mampu menyangga besarnya berat keseluruhan dari rangkaian drill string maupun casing string yang ada selama operasi pemboran. Perhitungan biaya pemboran yang akan dikeluarkan sangat tergantung pada jenis rig yang akan digunakan agar pemboran sesuai dengan drilling program dan lamanya waktu pemboran. Perencanaan sumur ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu faktor geologi dan reservoir. Data reservoir meliputi data karaketristik batuan reservoir, data sifat fisik batuan reservoir, data karaketristik fluida reservoir, data sifat fisik fluida reservoir, kondisi reservoir, dan jenis reservoirnya. Jenis reservoir sangat berpangaruh terhadap penentuan rig yang akan digunakan. Jika target operasi berada di reservoir dengan kedalaman yang dangkal, maka kapasitas rig yang digunakan akan semakin kecil sehingga biaya yang dikeluarkan semakin kecil. Demikian juga sebaliknya semakin dalam reservoirnya maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar.

Mekanika batuan berperan dalam laju penembusan, sebagian besar batuan diklasifikasikan sebagai material rapuh (brittle) yakni material yang dapat hancur bila diberi suatu beban yang melebihi daya tahan material tersebut. Dengan kata lain, dengan pemberian suatu gaya, maka batuan akan berubah bentuk secara elastis dan kemudian hancur tanpa melalui perubahan bentuk secara plastis (plastic flow). Sifat batuan yang cukup penting adalah hubungan kerapuhan relatif batuan terhadap tegangan (tension). Dalam kenyataannya, kuat tekan (compressive strength) batuan dapat menjadi dua kali lipat dari kuat tarik (tensile strength) batuan tersebut. Parameter yang pertama kali digunakan untuk optimasi pemboran adalah beban berat di atas pahat (Weigth On Bit). Jika pemboran menembus formasi dengan batuan yang keras maka parameter pemboran yang dioptimasi terlebih dahulu adalah WOB, selanjutnya pameter yang dioptimasi adalah kecepatan putaran rangkaian pipa bor (Rotation Per Minutes). Kedua parameter tersebut berpengaruh terhadap laju penembusan (Rate of Penetration), WOB yang tinggi dengan RPM yang rendah digunakan untuk formasi yang keras agar ROP lebih optimum dan tidak cepat merusak mata bor. Sebaliknya untuk formasi yanng lunak digunakan WOB yang kecil dengan RPM yang rendah agar ROP lebih optimal. Ketiga parameter tersebut berkaittan dalam penentuan kapasitas rig, dalam hal ini horse power yang akan digunakan. ROP yang semakin besar menyebabkan biaya pemboran yang besar karena waktu yang diperlukan dalam program pemboran semakin lama.

Tahapan eksplorasi geologi digunakan untuk mendapatkan data-data yang optimal tentang keadaan suatu daerah eksplorasi sehingga dapat memperkecil kemungkinan kegagalan dalam pemboran eksplorasi. Operasi eksplorasi mencakup semua kegiatan yang meliputi suatu pembelajaran atau studi tentang keadaan suatu daerah untuk menentukan kemungkinan sebagai tempat terakumulasinya migas yaitu dengan melakukan studi geologi dan geofisik. Dengan melakukan kegiatan studi atau kegiatan eksplorasi geologi dan geofisik maka dapat diperkirakan tentang keadaan petroleum sistemnya, yang meliputi estimasi batuan induk (source rock), jalur migrasi hidrokarbon, waktu migrasi, batuan reservoirnya, bentuk perangkap, dan batuan penutupnya, sehingga dapat diperkirakan berpotensi atau tidaknya suatu wilayah untuk menjadi tempat terakumulasinya hidrokarbon. Dari data geologi seorang drilling engineer membuat perencanaan pemboran, sesuai dengan batuan yang nanti akan di tembus per kedalamannya, serta pembuatan hole geometri yang meliputi pemilihan ukuran casing, bit, kedalaman casing. Data geologi meliputi : data permukaan, data atas permukaan, data petrologi. Letak geografis dan keadaan geologi suatu lapangan akan berpengaruh terhadap pemilihan rig yang akan digunakan dan biaya yang akan dikeluarkan, jika tempat untuk lokasi pemboran yang diperkirakan ada cadangan minyak atau gas yang cukup potensial dan tempat tersebut masih merupakan suatu tempat yang dianggap liar maka dengan sendirinya kita perlu membuat tempat tersebut menjadi tempat yang memungkinkan terlaksananya operasi pemboran.

Besarnya kapasitas rig merupakan kemampuan suatu rig untuk dapat memenuhi kebutuhan tenaga selama operasi pemboran. Sistem tenaga dalam operasi pemboran terdiri dari power suplay equipment, yang dihasilkan oleh mesin – mesin besar yang biasa dikenal dengan nama “prime mover” dan distribution equipment yang berfungsi untuk meneruskan tenaga yang diperlukan untuk mendukung jalannya kegiatan pemboran. Banyak tipe dari pembangkit tenaga yang telah dipakai atau yang telah dipertimbangkan untuk operasi pemboran. Diantaranya adalah mesin uap (steam engine), internal combution, electric, turbine, free piston engine dan kombinasi dari tipe uap tersebut. Rig tidak berfungsi dengan baik jika distribusi tenaga yang diperoleh tidak mencukupi. Sebagian besar tenaga yang dihasilkan kemudian didistribusikan untuk peralatan utama rig dan pendukungnya.

Perhitungan kapasitas rig dimulai dari perhitungan pada sistem angkat. Pada sistem angkat ini diperhitungkan besarnya beban yang harus ditanggung oleh menara saat menaikkan dan menurunkan rangkaian drill string dan casing string.

Beban vertikal merupakan sebagian beban yang berpengaruh pada menara pemboran. Beban ini meliputi berat drill string. Berat rangkaian casing string, dan beratan dari block group. Beban horisontal bekerja pada menara adalah akibat berat stand yang bersandar dan beban akibat pengaruh angin. 

Perhitungan tegangan pada kabel pemboran dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu, tegangan pada fast line dan tegangan pada dead line. Dalam keadaan statis besarnya tegangan fast line (TF) dan dead line (TD) adalah sama. 

Perhitungan ton-miles untuk mengetahui cutt-off pada saat adnya round trip rangkaian pipa pemboran yang terjepit atau memotong kabel yang telah lemah.

Beban total pada menara adalah jumlah dari beban vertikal, tegangan pada fastline, tegangan pada deadline, dan berat pada hook block. Besarnya horse power yang digunakan sistem angkat telah memperhitungkan faktor efisiensi prime mover sebesar 0,85. 

Pada sistem putar berfungsi untuk memutar rangkaian pipa bor dan juga memberikan beratan di atas pahat untuk membor suatu formasi. Dari sistem putar ini dihitung besarnya rotation per minute dan horse power. Meja putar harus diputar dibawah nilai RPM kritis agar rangkaian tidak putus. Peralatan putar ditempatkan pada lantai bor di bawah crown block dan di atas lubang bor. Peralatan ini terdiri dari rotary table, master bushing, kelly bushing dan rotary slip. Sistem putar ini membutuhkan tenaga dari prime mover yang dihubungkan dengan rotary table dengan menggunakan chain atau belt melalui drawwork. Namun saat ini dalam sistem putar umumnya menggunakan top drive yang merupakan gabungan dari rotary table, swivel dan kelly. 

Sistem sirkulasi merupakan komponen utama dari operasi pemboran yang mempengaruhi keberhasilan dari suatu operasi pemboran. Sistem sirkulasi mempunyai kegunaan yang hampir sama dengan kegunaan sistem lumpur. Secara umum lumpur pemboran dapat disirkulasikan dengan urutan sebagai berikut: lumpur dalam steel mud pit dihisap oleh pompa - pipa tekanan – stand pipe – rotary hose – swivel head – kelly – drill pipe – drill collar – bit – annulus drill collar – annulus drill pipe – mud line/flow line, shale shaker – steel mud pit – dihisap pompa kembali dan seterusnya. Dari sistem sirkulasi ini didapatkan :

  1. Kecepatan Pengakatan Cutting. 
  2. Kecepatan Kritik. 
  3. Tipe Aliran yang Terjadi.
  4. Frictional Pressure Loss untuk Aliran Turbulen.
  5. Pressure Loss pada Sistem Sirkulasi.
  6. Perhitungan Horse Power. 
Horse power total adalah jumlah seluruh horse power yang digunakan dalam seluruh sistem, mulai dari sistem angkat sampai dengan sistem sirkulasi. Setelah hasil dari kebutuhan operasi diketahui kemudian dilakukan perbandingan antara kapasitas rig sebenarrnya dengan kebutuhan operasi. Apabila kapasitas rig tidak mampu memenuhi kebutuhan operasi, dalam hal ini kebutuhan operasi lebih besar dari kapasitas rig yang ada, maka perusahaan wajib mengganti tipe rig, atau memodifikasi prime mover yang ada.

Sistem pencegahan sembur liar (blow out preventer) dipasang untuk menahan tekanan dari lubang bor. Peralatan ini disediakan pada operasi pemboran karena peramalan tekanan tidak selalu memungkinkan. Apabila formasi mempuyai tekanan yang besar dan kolom lumpur tidak dapat mengimbanginya maka akan terjadi “kick”, yaitu intrusi fluida formasi yang bertekanan tinggi yang masuk ke dalam lubang bor. Kick yang tidak terkendali dapat mengakibatkan terjadinya blow out. Jadi blow out selalu diawali dengan adanya kick. Blow Out Preventer (BOP) system berfungsi untuk menutup ruang annular antara drill pipe dan casing bila terjadi gejala kick. Sistem peralatan ini bekerja secara pneumatic (dengan menggunakan udara dan gas, biasanya dipakai) dan secara mekanik.

Estimasi biaya pemboran dihitung untuk memastikan dan memperkirakan berapa biaya operasi pemboran yang akan dikeluarkan. Penghitungan biaya pemboran dimulai dari profil sumur, konstruksi sumur bor merupakan profil yang memperlihatkan program casing penyemenan, dan komplesi sumur. Konstruksi sumur perlu direncanakan seakurat mungkin dengan mempertimbangkan keadaan geologi bawah permukaan, jenis material konstruksi dan efisiensi peralatan dan tempat serta rencana pemboran dan produksi selanjutnya, berapa banyak casing yang akan digunakan, semen serta lumpurnya. Data spesifikasi rig digunakan untuk mengetahui seberapa besar horse power yang akan digunakan agar mampu mendukung seluruh bagian yang ada di atas rig. Data yang dimaksud meliputi tipe rig, power rating, kapasitas hook, ketinggian lantai bor, drawwork yang bekerja, pompa lumpur, kapasitas traveling block. Dari data tersebut seorang drilling engineer mampu menentukan rig yang akan digunakan. 

Data drilling program, meliputi spesifikasi dari casing, ukuran bit, data semen, mud program, drilling hazard, dan semuanya itu tergantung pada lamanya operasi pemboran yang akan dilaksanakan. Data drilling program merupakan kedalaman versus waktu operasi, mulai dari rig up sampai rig realease. Semua prospek yang telah dipilih serta dinilai dalam suatu system penilaian, kemudian dipilih untuk dilakukan pemboran eksplorasi. Maka semua prospek ini haruslah dibuat prognosis. Pronogsis ini meliputi : lokasi yang tepat, kedalaman terakhir, latar belakang geologi, objektif atau lapisan reservoir yang diharapkan, kedalaman puncak formasi yang akan ditembus, dan jenis survai lubang bor yang akan dilakukan. Dalam prognosis ini juga harus dibuat suatu rencana mengenai berbagai hal seperti misalnya, alat bor yang akan dipakai, kapasitas kedalaman rencana pemboran, yaitu apakah akan dibor secara langsung sampai pada kedalaman akhir atau secara bertahap dengan berhenti pada kedalaman tertentu kemudian melakukan pemasangan casing dan dibor kembali dengan ukuran yang lebih kecil, dan sebagainya. Hal ini menyangkut ukuran bit yang akan dipakai, penempatan selubung (casing). Juga pelu dibuat rencana mengenai apakah dilakukan penggantian jenis lumpur dengan berbagai macam berat jenis mengingat berbagai macam tekanan formasi yang kita hadapi di dalam pemboran. Perkiraan biaya pemboran dipengaruhi oleh :

Ukuran dan Jenis Sumur yang Akan Dibuat
Dengan mengetahui jenis sumur yang akan dikembangkan dan completion yang digunakan, maka dapat diperkirakan peralatan-peralatan yang harus disewa, yang sudah ada dan yang harus dibeli . Biaya pemboran bisa diperkirakan dengan melihat biaya pemboran dari sumur -sumur dengan jenis yang hampir sama yang dikembangkan dulu.

Parameter yang Berpengaruh pada Biaya Pemboran
Posisi sumur yang akan dibuat, dengan mempertimbangkan posisi sumur yang akan dibuat bisa diperkirakan biaya :

  1. Pembuatan Jalan/ Fasilitas Transportasi yang Harus Disediakan.
  2. Pembuatan Lokasi dan Tempat Pemboran.
Biaya Peralatan , Material Pemboran, dan Rig yang Disewa
Perhitungan biaya sewa rig dilihat dari kapasitas prime mover yang dimiliki dengan kapasitas prime mover pada saat operasi. Sehingga selisih antara horse power yang terpakai dengan kapasitas horse power yang dimiliki rig bisa digunakan untuk menghitung besarnya biaya kerugian yang harus dibayar selama operasi pemboran. Material pemboran meliputi casing, lumpur, semen. Proses-proses uji sumur yang dilakukan ini meliputi mud logging, electric logging, DST, coring, supervisory.

Transportasi
Biaya transportasi untuk pelaksanaan operasi di lokasi pemboran yang bisa diperkirakan dari jumlah mobil yang ada, dan jumlah kru yang ada kemudian dipertimbangkan dengan membandingkan operasional transportasion sumur yang ada sebelumnya atau sumur dari lapangan yang lain.

Alat transportasi dapat mencakup harga untuk bagian dasar truk, tongkang, perahu, dan helikopter. Jarak yang jauh maka suatu kelompok memberi harga komersil atau menyewa pesawat untuk bisa di jadikan harga yang signifikan. Perhitungan biaya transportasi membutuhkan suatu perencanaan yang detail, pengetahuan tentang jarak antara alat dengan barang persediaan lokal dan karakter alat seperti standar dan ukuran kebutuhan.

Work Over
Operasi workover biasanya dilakukan dengan waktu temporary dan diprediksikan kapan harus dilakukan workover. Biaya yang dikenakan pada operasi workover biasanya tergantung dari masalah yang mungkin timbul akibat komplesi yang dilakukan pada sumur tesebut.


KESIMPULAN

  1. Tahapan eksplorasi geologi digunakan untuk mendapatkan data-data yang optimal tentang keadaan suatu daerah eksplorasi sehingga dapat memperkecil kemungkinan kegagalan dalam pemboran. Serta digunakan untuk perencanaan desain konstruksi sumur, dan data untuk dasar perencanaan pemilihan rig. 
  2. Keadaan geologi dalam hal ini letak geografis serta keadaan geologi dan reservoir suatu lapangan sangat berpengaruh terhadap pemilihan horse power dari rig yang akan digunakan. Jika target operasi berada di reservoir dengan kedalaman yang dangkal, maka kapasitas rig yang digunakan akan semakin kecil sehingga biaya yang dikeluarkan semakin kecil. Demikian juga sebaliknya semakin dalam reservoirnya maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar. 
  3. Kapasitas rig merupakan kemampuan suatu rig untuk dapat memenuhi kebutuhan dari operasi pemboran yang meliputi sistem angkat, sistem putar, dan sistem sirkulasi. 
  4. Rig yang kapasitasnya dibawah kebutuhan operasi di lapangan akan mengakibatkan terhambatnya suatu operasi pemboran dan menyebabkan problem pemboran, serta menghambat waktu dari proyek pengeboran. 
  5. Perhitungan kapasitas rig meliputi perhitungan beban horisontal, beban vertikal, perhitungan tegangan kabel, penentuan RPM kritis, kecepatan kritik dan kecepatan pengangkatan cutting, tipe aliran, besarnya frictional loss, dan besarnya total horse power yang dibutuhkan. 
  6. Weigth on bit yang tinggi dengan Rotation per minute yang rendah digunakan untuk formasi yang keras agar Rate of Penetration atau laju penembusan lebih optimum dan tidak cepat merusak mata bor. Sebaliknya untuk formasi yanng lunak digunakan WOB yang kecil dengan RPM yang rendah agar ROP lebih optimal. Ketiga parameter tersebut berkaittan dalam penentuan kapasitas rig, dalam hal ini horse power yang akan digunakan. ROP yang semakin besar menyebabkan biaya pemboran yang besar karena waktu yang diperlukan dalam program pemboran semakin lama. 
  7. Estimasi biaya pemboran dihitung untuk memastikan dan memperkirakan berapa biaya operasi pemboran yang akan dikeluarkan. 
  8. Selisih antara horse power yang terpakai dengan horse power yang dimiliki rig digunakan untuk perhitungan kerugian yang harus dibayar perusahaan minyak ke kontraktor penyedia rig. 
  9. Perkiraan biaya pemboran dipengaruhi oleh ukuran dan jenis sumur yang akan dibuat, biaya material yang diperlukan, biaya peralatan, bahan, dan rig yang disewa, transportasi, work over.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Drs. Herianto, Phd. yang telah memberikan bimbingan pada tugas karya ilmiah kepada kami sehingga saya dapat menyelesaikan papper ini dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA


  1. Koesoemadinata R. P. 1980. “Geologi Minyak dan Gas Bumi”. Bandung: ITB. Edisi Kedua. Jilid I dan II. 
  2. Adam Neil.,”Drilling Enginer, “A Completion Well Planing Approach”, Penn-Well Publishing, Tulsa, 1985. 
  3. Rubiandini Rudi., : ”Teknik Pemboran II”, Jurusan T. Perminyakan F.T.M, UPN “Veteran Yogyakarta, 1993. 
  4. Mc. Cain W. D. Jr. 1973. “The Properties of Petroleum Fluid”. Tulsa, Oklahoma: Penn Well Publishing Company. 
  5. Dake, P.L., “Fundamental of Reservoir Enginering”. Elsevier Science Publishing Company, Newyork , 1978.



Komprehensif
Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
S1 Teknik Perminyakan
Hanif Shulhan
NIM 113 070 157
2011



Papper Petroleum Engineering

Optimasi Pengurasan Cadangan Reservoir Dengan Metode Infill Drilling Berdasarkan Data Penilaian Formasi


ABSTRAK

Infill drilling ini dilakukan terutama pada lapangan minyak yang telah berproduksi, tetapi produksinya masih berada dibawah laju produksi yang efisien dari sisa cadangan yang ada. Dasar pertimbangan pelaksanaan infill drilling yaitu jumlah sisa cadangan minyak yang masih mungkin dapat diambil (remaining recoverable reserve) cukup besar, tetapi jumlah sumur produksi terlalu sedikit sehingga waktu yang diperlukan untuk mengangkat minyak dari reservoir sampai batas ekonomisnya menjadi lama.

Besarnya cadangan dan sisa cadangan, produktifitas formasi, jari-jari penyerapan sumur, jumlah dan pola sumur produksi, mekanisme pendorong reservoir, juga merupakan bahan pertimbangan penting pada pelaksanaan infill drilling. Data reservoir yang digunakan sebagai dasar pertimbangan perencanaan infill drilling diperoleh dari beberapa metode, yaitu metode coring, metode logging, metode tes sumur, dan metode tes produksi. Besarnya cadangan dan sisa cadangan diperoleh dari tiga macam metode perhitungan, yaitu metode volumetri, metode material balance dan metode decline curve.

Pada perhitungan jari-jari penyerapan didasarkan pada kondisi reservoir dan data-data tekanan dan produksi. Hal penting lainnya yang harus diketahui pada pelaksanaan infill drilling yaitu adanya interferensi sumur, karena jika telah terjadi interferensi pada sumur maka ditinjau baik dari segi teknis maupun dari segi ekonomis, infill drilling tidak dapat dilakukan. Peranan data bawah permukaan sangat penting digunakan untuk mengetahui distribusi cadangan, porositas, permeabilitas, serta data reservoir lainnya karena pada pelaksanaan infill drilling, tidak semua sumur-sumur infill yang direncanakan harus dilakukan pemboran. Prioritas pemboran sumur-sumur infill ditujukan pada daerah-daerah yang mempunyai sisa cadangan yang terbesar, dan mampu memberikan jari-jari pengurasan yang terbesar, sehingga pengurasan cadangan reservoir dengan metode infill drilling ini dapat memberikan hasil yang optimum.


DESKRIPSI ALTERNATIF


Dalam usaha meningkatkan produksi minyak yang terus mengalami penurunan tingkat produksi, dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan produksi minyak. Serangkaian pekerjaan stimulasi, workover, dan recompletion yang telah dilakukan pada sumur-sumur yang berproduksi ternyata tidak memberikan peningkatan laju produksi yang signifikan. Infill drilling merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan maupun mempertahankan laju produksi pada suatu lapangan minyak. Pemboran ini dilakukan terutama pada lapangan minyak yang telah berproduksi, tetapi produksinya masih berada dibawah harga laju produksi yang efisien (MER). Maximum efficiency rate (MER) merupakan tingkat laju produksi maksimum reservoir (sumur-sumur) dimana penggunaan tenaga pendorong reservoir tetap efisien.

Tujuan infill drilling adalah untuk mengangkat minyak dari bagian reservoir yang belum terkuras oleh sumur-sumur produksi yang sudah ada. Penambahan sumur-sumur hasil infill drilling bertujuan agar laju produksi meningkat dengan cara memperkecil spasi sumur yang telah ada. Spasi sumur merupakan besarnya jarak kedudukan suatu sumur dengan sumur lainnya yang sanggup memberikan pengurasan pada jarak alirnya. Tujuan penentuan spasi sumur ini adalah menentukan jumlah dan letak titik jari-jari penyerapan (re) untuk merencanakan suatu pola penyebaran sumur.

Sebagai contoh suatu pengembangan sumur-sumur infill pada lapangan minyak yang telah dikembangkan dengan metode produksi primer yaitu pada lapangan Raja di Sumatera Utara. Lapangan ini telah diproduksikan dari tahun 1940 sampai tahun 1978 dengan jumlah sumur produksi 36 dengan jarak spasi sumur 80 acre. Pada tahun 1976 sampai 1978 telah ditambahkan 6 sumur infill, sehingga produksi lapangannya meningkat dari 300 BOPD menjadi 3.500 BOPD.

Besarnya cadangan atau sisa cadangan, produktifitas formasi, jari-jari penyerapan sumur, jumlah sumur produksi, letak dan pola sumur produksi yang telah ada, merupakan pertimbangan pelaksanaan infill drilling. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diperoleh dari perhitungan yang didasarkan pada data reservoir dan data produksi yang diperoleh selama proses pemboran maupun selama proses produksi yang sedang berlangsung.

Besarnya cadangan atau sisa cadangan, produktifitas formasi, jari-jari penyerapan sumur, jumlah sumur produksi, letak dan pola sumur produksi yang telah ada, merupakan pertimbangan pelaksanaan infill drilling. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diperoleh dari perhitungan yang didasarkan pada data reservoir dan data produksi yang diperoleh selama proses pemboran maupun selama proses produksi yang sedang berlangsung.

Besarnya cadangan atau sisa cadangan dapat diperoleh dari tiga macam metode perhitungan, yaitu metode volumetri, metode material balance dan metode decline curve. Pada perhitungan besarnya cadangan ini juga digunakan peta isopach yang digunakan dalam penentuan luas dan volume dari reservoir yang mengandung minyak (volumetri) dan juga dapat digunakan dalam penentuan water oil contact (WOC) yang merupakan bottom dari suatu reservoir yang mengandung minyak serta gas oil contact (GOC) yang merupakan top dari reservoir yang mengandung minyak.

Perhitungan jari-jari penyerapan didasarkan pada kondisi reservoir dan data-data tekanan dan produksi, yang diperoleh dengan menggunakan persamaan Darcy untuk system aliran radial dan persamaan volumetri yang didasarkan pada data produksi, data logging, data PVT (pressure, volume, temperature), serta data analisis core. Jari-jari penyerapan yang dimaksud adalah jari-jari pengurasan efektif (re) untuk tiap sumur yang tidak berubah dan merupakan nilai maksimum dari jari-jari sumur pengurasan (rd) pada kondisi steady state. Apabila diantara sumur-sumur tersebut jari-jari pengurasannya telah bersinggungan, maka infill drilling tidak bisa dilakukan.

Data reservoir yang digunakan sebagai dasar pertimbangan perencanaan infill drilling diperoleh dari beberapa metode, yaitu metode coring, metode logging, metode tes sumur, dan metode tes produksi. Data reservoir yang berupa sifat fisik batuan diperoleh dari metode coring. Metode logging dilakukan untuk mendapatkan data-data reservoir yang berupa sifat fisik batuan reservoir secara langsung dilapangan dengan cara mengintepretasikan grafik fungsi kedalaman lubang bor menjadi besaran-besaran sifat fisik batuan reservoir. Metode tes sumur dilakukan untuk melengkapi data-data informasi yang diperoleh pada metode coring dan metode logging. Selain itu dari metode tes sumur juga diperoleh data-data lain, seperti tekanan, temperatur, dan jari-jari penyerapan. Metode tes produksi dilakukan untuk mendapatkan data-data produksi, seperti laju produksi minyak, laju produksi gas, laju produksi air, gas oil ratio (GOC), dan water oil ratio (WOR). Semua data tersebut digunakan dalam penentuan besarnya sisa cadangan reservoir, distribusi karakteristik reservoir, laju produksi, dan jari-jari penyerapan, yang nanti akan digunakan dalam penentuan jumlah dan letak sumur infill.

Beberapa tahap pemboran yang merupakan rangkaian usaha yang saling berkaitan untuk mendapatkan minyak di reservoir. Tahapan-tahapan pemboran yang dilakukan meliputi pemboran eksplorasi, pemboran deliniasi, pemboran pengembangan, dan pemboran produksi. Kaitan pada setiap tahapnya berupa penyampaian data-data yang digunakan sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan dalam pelaksanaan tahap pemboran selanjutnya. Pada infill drilling sangat jelas membutuhkan data-data pemboran sebelumnya karena pelaksanaan infill drilling dilakukan diantara sumur-sumur produksi yang telah ada.

Faktor penting dalam infill drilling meliputi penentuan jumlah serta tata letak sumur infill dari prioritas pemborannya. Pada penentuan jumlah serta tata letak sumur infill meliputi metode analisis penentuan titik penyerapan, penentuan jari-jari penyerapan, serta dasar-dasar penentuan tata letak sumur.

Metode analisis penentuan titik penyerapan ini berhubungan dengan pengaruh-pengaruh terhadap penentuan spasi sumur terhadap ultimate recovery, dan metode yang digunakan dalam penentuan spasi sumur. Dasar-dasar pada penentuan tata letak sumur infill ditentukan oleh dua pertimbangan, yaitu pertimbangan teknis dan pertimbangan ekonomis. Pertimbangan teknis meliputi besarnya sisa cadangan, jenis tenaga pendorong reservoir, karakteristik batuan reservoir, serta laju produksi dan kumulatif recovery yang diharapkan. Sedangkan pertimbangan ekonomis didasarkan pada pertimbangan nilai jual minyak yang dihasilkan dengan biaya pemboran dan komplesi yang dikeluarkan, biaya operasi produksi, biaya perawatan sumur, maupun biaya lainnya seperti biaya administrasi.

Penentuan jumlah sumur infill yang harus dibuat tergantung dari jumlah sumur-sumur produksi yang telah ada serta kumulatif produksi yang telah dihasilkan. Penentuan jumlah sumur infill ini dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu penetuan berdasarkan konsep MER dan penentuan berdasarkan tes sumur. Penentuan jumlah sumur infill berdasarkan konsep MER dilakukakan dengan cara membagi selisih antara besarnya MER dan rate kumulatif yang diperoleh, dengan besarnya rate rata-rata sumur infill. Perhitungan rate rata-rata sumur infill dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan aliran Darcy (untuk aliran steady sate). Penentuan jumlah sumur infill berdasarkan analisa tes sumur memerlukan data-data seperti luas daerah cadangan, serta luas daerah pengurasan. Data luas daerah cadangan diperoleh dari peta isopach, sedangkan luas daerah pengurasan diperoleh dari tes sumur.

Hal penting lainnya yang harus diketahui pada pelaksanaan infill drilling yaitu adanya interferensi sumur, karena jika telah terjadi interferensi pada sumur maka ditinjau baik dari segi teknis maupun dari segi ekonomis, infill drilling tidak dapat dilakukan. Untuk mengetahui ada tidaknya interferensi sumur yaitu dengan melakukan interference test.

Pada pelaksanaan infill drilling, tidak semua sumur-sumur infill yang direncanakan harus dilakukan pemboran, tetapi masih harus dipertimbangkan terhadap segi ekonomisnya, yaitu diusahakan agar pada pemboran sumur-sumur infill tepat pada daerah-daerah yang sanggup memberikan pengurasan terbesar sehingga dengan sedikit sumur infill dapat menutup kekurangan MER-nya. Prioritas ini ditujukan pada daerah-daerah yang mempunyai sisa cadangan yang cukup besar, porositas besar, permeabilitas besar, serta tekanan reservoir yang cukup besar pula, oleh karena itu peranan data bawah permukaan sangat penting digunakan untuk mengetahui distribusi cadangan, porositas, permeabilitas, serta data reservoir lainnya, dimana hal ini berhubungan dengan perencanaan profil sumur infill drilling. Profil sumur infill drilling ini akan menggambarkan letak titik sumur-sumur infill pada daerah dekat sumur-sumur produksi yang telah ada sebelumnya atau sumur-sumur infill drilling ini disebut juga sebagai sumur-sumur cluster. Pada perencanaan pemboran sumur cluster, pemboran dilakukan untuk mencapai target direservoir yang mempunyai sisa cadangan paling besar, dan mempunyai jari-jari pengurasan (re) yang paling besar pula, sehingga akan mempercepat perolehan minyak pada lapangan tersebut, sehingga optimasi pengurasan cadangan reservoir dengan metode infill drilling dapat memberikan hasil perolehan yang optimum.


KESIMPULAN

  1. Proses perencanaan infill drilling ini meliputi pertimbangan penggunaan infill drilling, penentuan jumlah sumur infill, penentuan tata letak sumur infill, penentuan pola sumur infill, dan prioritas infill drilling. 
  2. Pertimbangan pada perencanaan infill drilling yaitu jumlah sisa cadangan minyak yang masih mungkin dapat diambil (remaining recoverable reverse) cukup besar, tetapi jumlah sumur produksinya terlalu sedikit, sedangkan laju produksinya masih berada dibawah laju produksi yang efisien (MER) sehingga waktu yang diperlukan untuk mengangkat minyak dari reservoir sampai batas ekonomisnya menjadi lama.
  3. Perencanaan infill drilling didasarkan oleh adanya heterogenitas reservoir, yaitu penyebaran sifat fisik batuan dan fluida reservoir yang tidak merata, sehingga mengakibatkan hidrokarbon yang ada pada salah satu bagian direservoir tidak dapat diserap oleh sumur-sumur produksi yang telah ada, serta tidak terjadi interferensi antar sumur karena jika telah terjadi interferensi pada sumur maka dari ditinjau baik dari segi teknis maupun dari segi ekonomis, infill drilling tidak dapat dilakukan.
  4. Peran dari data penilaian formasi sangat diperlukan dalam penentuan pertimbangan-pertimbangan pada perencanaan infill drilling. Data tersebut antara lain digunakan untuk penentuan besarnya cadangan dan sisa cadangan, distribusi karakteristik reservoir, laju produksi, serta penentuan jari-jari penyerapan yang nantinya digunakan untuk menentukan jumlah dan tata letak sumur infill. Metode perolehan data penilaian formasi yang digunakan adalah metode coring, metode logging, metode tes sumur, dan metode tes produksi.
  5. Perencanaan pola penyebaran dan spasi sumur infill dipengaruhi oleh heterogenitas reservoir, jenis mekanisme pendorong reservoir, ketebalan dan kemiringan lapisan, dan distribusi permeabilitas lapisan produktif. 6. Prioritas penentuan tata letak pengurasan sumur infill didasarkan pada daerah yang mempunyai sisa cadangan minyak yang paling besar, dimana hal ini berhubungan dengan perencanaan profil sumur infill drilling, sehingga optimasi pengurasan cadangan reservoir dengan metode infill drilling dapat memberikan hasil perolehan yang optimum.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anonim. 1993. “Koloikum Sub A”, Fakultas Teknik Perminyakan UPN “Veteran” Yogyakarta.
  2. Abdassah, Doddy. 1997. “Pressure Transient Analysis”. Jurusan Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologo Mineral, ITB.
  3. Ahmed, Tarek. 2005. “Advanced Reservoir Engineering”. Wheeler Road, Burlington: Gulf Professional Publishing.
  4. Amyx, J. W., Bass M. D., Whiting R. L. 1960. “Petroleum Reservoir Engineering Second Edition”. New York, Toronto, London: Mc Graw Hill Book Company.
  5. Chaudhry, Amanat, U. 2004 “Oil Well Testing Handbook”. Wheeler Road, Burlington: Gulf Professional Publishing.
  6. Cole Frank W. 1969. “Reservoir Engineering Manual”. Houston, Texas: Gulf Publishing Company.
  7. Craft B. C. and Hawkins M. F. 1959. “Applied Petroleum Reservoir Engineering”. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Eglewood Cliffs.
  8. Earlougher, Robert C. 1997. “Advances in Well Test Analysis”. Monograph Series. Dallas: SPE.
  9. Gatlin C. T. 1960. ”Petroleum Engineering Drilling and Well Completion”. New Jersey: Prentice Hall Inc. Englewood Cliffts.
  10. Gould T. C., Sarem A. M. 1989. “Infill Drilling for Incremental Recovery”. Journal of Petroleum Technology. Vol 32, No. 3, Page 229-237.
  11. Helender D. T. 1983. “Fundamental of Formation Evaluation”. Tulsa: OCGI Publishing.
  12. Koesoemadinata R. P. 1980. “Geologi Minyak dan Gas Bumi”. Bandung: ITB. Edisi Kedua. Jilid I dan II.
  13. Lee W John. 1967. ”Well Testing”. New York, Dallas: Society of Petroleum Engineering of AIME. First Printing.
  14. Mathews C. S. and Russel D. G. 1967. “Pressure Buildup and Flow Test in Well”. New York, Dallas: SPE of AIME.
  15. Mc. Cain W. D. Jr. 1973. “The Properties of Petroleum Fluid”. Tulsa, Oklahoma: Penn Well Publishing Company.
  16. Pettijohn F. J. 1957. “Sedimentary Rocks”. Calcuta: Oxford and IBH Publishing Co. Second Edition.
  17. Rabia H. 2000. “Drilling Optimization”. Report on North Drilling Practices to Various Companies.
  18. Wyllie M. P., Gregor A. R., and Gardner G. H. F. “An Experimental Investigation of Factors Affecting Elastic Wave Velocities in Porous Media”.


Komprehensif

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
S1 Teknik Perminyakan
M. Bayu Ciptoaji
NIM 113 070 140
2011