November 2011


Dalam dunia sub-atomik, hukum fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak partikel ini diatur oleh suatu konsep probabilitas. Pandangan terakhir ini yang menyangkut indeterminisme menimbulkan kontroversi.

Partikel dasar adalah partikel yang; partikel lainnya yang lebih besar terbentuk. Contohnya, atom terbentuk dari partikel yang lebih kecil dikenal sebagai elektron, proton, dan netron. Proton dan netron terbentuk dari partikel yang lebih dasar dikenal sebagai quark. Salah satu masalah dasar dalam fisika partikel adalah menemukan elemen paling dasar atau yang disebut partikel dasar, yang membentuk partikel lainnya yang ditemukan dalam alam, dan tidak lagi terbentuk atas partikel yang lebih kecil. 

Dalam fisika kuantum, radiasi adalah zarah (partikel sub atom, partikel terkecil dan terhalus). Zarah yang bisa menempati suatu titik secara bersama-sama, disebut boson. Zarah yang individualis, tidak mau bersama-sama, disebut fermion. Tapi, gabungan fermion berjumlah genap jadi boson, sedangkan gabungan boson tetap boson. Aneh bin rumit memang. 

Fisikawan abad ke-20 merasa takjub ketika dasar-dasar pandangan dunia mereka terguncang oleh pengalaman baru dari realitas atom, dan mereka menggambarkan pengalaman ini dalam istilah-istilah yang sangat mirip dengan yang digunakan oleh para Sufi. Heisenberg menulis: “… perkembangan terakhir di fisika modern hanya dapat dimengerti ketika seseorang menyadari bahwa di sini dasar-dasar fisika sudah mulai bergerak; dan bahwa gerakan ini telah menyebabkan perasaan bahwa ini telah memotong dasar dari ilmu pengetahuan.” Penemuan fisika modern ini mengharuskan perubahan mendasar dari konsep-konsep seperti ruang, waktu, materi, objek, sebab dan akibat, dll. 

Dalam teori Kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi dst.) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrödinger menunjukkan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukkan oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun persamaan ini tidak memberi informasi apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatu eksperimen benar-benar dilakukan, dengan perkataan lain persamaan tersebut meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. 

Dalam suatu percobaan celah ganda, tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen dilakukan. Partikel tersebut tidak punya sifat “asli”. 

Oleh para Fisikawan konsekuensi indeterminisme ini biasanya dilukiskan secara dramatis dalam sebuah “eksperimen” yang dikenal dengan kucing Schrodinger (Dewitt, 1970). Bisa dalam dua keadaan skizofrenik sekaligus: yaitu “hidup yang juga mati, mati yang juga hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yang digunakan disini, dari ketidakmampuan sang fisikawan untuk menerangkan keadaan “yang sesungguhnya” terjadi. Namun hal tersebut seperti keadaan partikel yang bisa sekaligus gelombang merupakan konsekuensi pengembangan teori Kuantum. 

Albert Einstein sendiri sangat tidak nyaman dengan konsekuensi terakhir ini. Meskipun pada masa mudanya Einstein turut serta dalam membangun teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) namun Einstein tua justru merupakan seorang penentang konsekuensi filosofis teori Kuantum, sampai-sampai dia berucap “Tuhan tidak bermain dadu”. Dalam debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang meskipun “agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapat menerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupan sehari-hari. 

Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam menyatakan: 

"Kosmos berdiri di antara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non eksisteni. Ia bukan murni wujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka dari itu kosmos sepenuhnya tipuan, dan kalian membayangkan bahwa ini al Haqq, namun sebetulnya bukan al Haqq. Dan kalian membayangkan bahwa ini makhluk, namun ini bukan makhluk". Bahasa Rumi “Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak” atau ungkapan Ibnu Arabi tersebut sangat memiliki kemiripan dengan Mekanika Kuantum yang juga mengungkapkan tentang “hidup yang juga mati, mati yang juga hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yang digunakan disini. 

Selanjutnya dalam kerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat suatu kerucut ruang-waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang. Dalam hal ini –secara matematik– ada bagian yang berada di luar kerucut ruang waktu ini, sehingga dapat dikatakan di luar dunia fisik ini yang kita tempati ini masih ada kemungkinan “dunia lain”. Hal ini juga didukung oleh teori Kuantum yang menawarkan many worlds interpretation atau interpretasi banyak dunia yang diungkapkan oleh Everett pada tahun 1957. Artinya alam semesta yang kita tempati ini bukan satu-satunya. Hal ini serupa dengan yang dikatakan oleh Rumi tentang hati yang bisa menuju “Pintu-pintu ke dunia lain.” 

Para ahli astrofisika modern telah menghitung bahwa setidaknya ada 15 trilyun galaksi sejak permulaan penciptaan —big bang— dan galaksi-galaksi tersebut dalam kosmos mengikuti suatu siklus seperti yang dijelaskan oleh sufi yaitu kelahiran, pertumbuhan, kematian dan pembangkitan kembali. Bintang-bintang, seperti manusia, tidak pernah sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasar seperti besi, karbon, oksigen dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulang dalam ruang sebagai debu kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. Semua dalam alam semesta yang berekspansi terdiri dari energi, dan energi secara sederhana berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain untuk selanjutnya naik menuju (cosmic ascent) Yang Maha Pencipta. 

Pencarian padanan antara sufisme dan Fisika modern dapat terus dilakukan terutama dalam masalah yang berkaitan dengan semesta lain, dunia ghoib, pengkerutan waktu, ketidakpastian, “hidup tetapi mati”, kesadaran dapat memengaruhi materi, “ada tetapi tidak ada”, siklus kehidupan dan asal usul semesta.Beberapa hal dapat dengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak lagi yang merupakan bahasa metafora karena susahnya menuliskan realitas yang sesungguhnya. Mungkinkah kesulitan ini karena keterbatasan bahasa manusia atau keterbatasan kemampuan logis manusia? 

Kita biarkan pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab, namun mengikuti “semangat teori Kuantum” yang maju terus memberikan kontribusi penting pada peradaban manusia meskipun telah meninggalkan Einstein dalam kegelisahan interpretasi. 

Sudah beratus-ratus tahun terbukti secara empiris bahwa para sufi mampu menggunakan suatu jenis energi metafisik yang berasal dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai keperluan seperti penyembuhan sakit fisik dan non fisik. Melakukan teleportasi dan berada di lebih satu tempat sekaligus. Para sufi memperoleh kemampuannya dengan sepenuhnya melakukan kepasrahan kepada Yang Maha Suci. Kini para fisikawan dan para sufi dapat melakukan penjelasan hal ini karena memang dimungkinkan dalam teori Kuantum bahwa kesadaran dapat memengaruhi materi (mind over matter). 

Hal ini hanya merupakan salah satu contoh manfaat real untuk kemanusiaan. Masih banyak lagi yang serba mungkin. 

Sufisme dan Fisika kini telah bertemu, dan menempuh perjalanan membuka tabir rahasia alam dan kehidupan. Telah lahir sebuah embrio keilmuan baru: Sufisika - Sufi Way-Fisika. 

"Aku adalah kehidupan dari yang kucintai, 

Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak, 

Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai," ungkap Jalaluddin Rumi. 


Referensi: 
  1. Muhyiddin Ibn al-Arabi, Fusus Al-Hikam, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh ‘Aisha ‘Abd al-Rahman at-Tarjumana, Diwan Press, 1980. 
  2. Henry. P. Stapp, Mindful Universe:Quantum Mechanics and The Participating Observer, Springer-Verlag, Berlin, 2007. 
  3. AK Scott, Sufisme and New Physics, Sufisme, 8 No. 1, 29-33, 1997 
  4. Ibrahim B. Syed, Sufism and Quantum Physics, Etudes orientales Nos 23/24, 2005. 
  5. Wikipedia. 
  6. Berbagai Literatur Sufi dan Fisika. 

(Sumber : Muklis Gumilang On Facebook) 



Papper Petroleum Engineering

Estimasi Biaya Pemboran Dan Kapasitas Rig Yang Digunakan Berdasarkan Data Geologi Dan Karakteristik Reservoir



ABSTRAK

Dalam usaha perolehan minyak dan gas kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah pemboran. Untuk melakukan suatu pemboran perlu adanya suatu perencanaan yang tepat agar dapat dicapai suatu hasil yang optimum. Dalam suatu perencanaan pemboran perlu adanya studi geologi dan geofisik serta mempertimbangkan karakteristik reservoir untuk memperoleh data-data yang menunjang dalam proses perencanaan pemboran dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan biaya yang akan dikeluarkan.

Penghitungan kapasitas rig digunakan untuk efisiensi dari operasi pemboran yang akan dilakukan. Jika tidak tepat, akan menyebabkan rendahnya laju penembusan, keadaan formasi yang membahayakan dan tingginya biaya yang akan dikeluarkan karena penghitungan kapasitas rig yang tidak tepat. Penghitungan kapasitas rig mencakup seluruh sistem yang ada di operasi pemboran, mulai dari sistem angkat, sistem putar, sistem sirkulasi, dan sistem BOP. Dari penentuan horse power sistem angkat dan sistem putar dapat menggambarkan kebutuhan operasi yang harus dipenuhi. Kapasitas rig harus lebih besar dari kebutuhan operasi, sebab jika kapasitas rig yang digunakan lebih kecil dari kebutuhan operasi rig akan hancur karena tidak mampu menahan beban yang ditanggung.

Penghitungan biaya pemboran merupakan suatu langkah sebelum dilakukannya operasi pemboran. Biaya untuk perencanaan sumur disesuaikan sebagai perbandingan dari biaya pemboran sebenarnya. Sering kali hasil akhirnya adalah biaya pemboran yang melebihi jumlah yang diperlukan. Untuk itu, diusahakan mengurangi data-data yang tidak terlalu penting. Kurangnya pengeluaran biaya pada tahap awal dalam proses perencanaan sumur hampir selalu menimbulkan biaya pemboran menjadi lebih tinggi dari perkiraan. Disamping itu problem pemboran yang terjadi akan berpengaruh terhadap biaya pemboran yang akan dikeluarakan. Estimasi biaya pemboran dimulai dari pembuatan konstruksi sumur, hole geometri, casing program, program penyemenan, penghitungan biaya sewa rig sampai biaya work over. Dengan dilakukannya perhitungan kapasitas rig yang akan digunakan serta perencanaan biaya pemboran, diharapkan bisa mengoptimalkan dana yang ada untuk operasi pemboran. 


DESKRIPSI ALTERNATIF

Dalam suatu operasi pemboran, rig merupakan peralatan yang menunjang keberhasilan operasi pemboran. Rig disini berfungsi sebagai penyangga peralatan-peralatan pemboran yang harus mampu menyangga besarnya berat keseluruhan dari rangkaian drill string maupun casing string yang ada selama operasi pemboran. Perhitungan biaya pemboran yang akan dikeluarkan sangat tergantung pada jenis rig yang akan digunakan agar pemboran sesuai dengan drilling program dan lamanya waktu pemboran. Perencanaan sumur ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu faktor geologi dan reservoir. Data reservoir meliputi data karaketristik batuan reservoir, data sifat fisik batuan reservoir, data karaketristik fluida reservoir, data sifat fisik fluida reservoir, kondisi reservoir, dan jenis reservoirnya. Jenis reservoir sangat berpangaruh terhadap penentuan rig yang akan digunakan. Jika target operasi berada di reservoir dengan kedalaman yang dangkal, maka kapasitas rig yang digunakan akan semakin kecil sehingga biaya yang dikeluarkan semakin kecil. Demikian juga sebaliknya semakin dalam reservoirnya maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar.

Mekanika batuan berperan dalam laju penembusan, sebagian besar batuan diklasifikasikan sebagai material rapuh (brittle) yakni material yang dapat hancur bila diberi suatu beban yang melebihi daya tahan material tersebut. Dengan kata lain, dengan pemberian suatu gaya, maka batuan akan berubah bentuk secara elastis dan kemudian hancur tanpa melalui perubahan bentuk secara plastis (plastic flow). Sifat batuan yang cukup penting adalah hubungan kerapuhan relatif batuan terhadap tegangan (tension). Dalam kenyataannya, kuat tekan (compressive strength) batuan dapat menjadi dua kali lipat dari kuat tarik (tensile strength) batuan tersebut. Parameter yang pertama kali digunakan untuk optimasi pemboran adalah beban berat di atas pahat (Weigth On Bit). Jika pemboran menembus formasi dengan batuan yang keras maka parameter pemboran yang dioptimasi terlebih dahulu adalah WOB, selanjutnya pameter yang dioptimasi adalah kecepatan putaran rangkaian pipa bor (Rotation Per Minutes). Kedua parameter tersebut berpengaruh terhadap laju penembusan (Rate of Penetration), WOB yang tinggi dengan RPM yang rendah digunakan untuk formasi yang keras agar ROP lebih optimum dan tidak cepat merusak mata bor. Sebaliknya untuk formasi yanng lunak digunakan WOB yang kecil dengan RPM yang rendah agar ROP lebih optimal. Ketiga parameter tersebut berkaittan dalam penentuan kapasitas rig, dalam hal ini horse power yang akan digunakan. ROP yang semakin besar menyebabkan biaya pemboran yang besar karena waktu yang diperlukan dalam program pemboran semakin lama.

Tahapan eksplorasi geologi digunakan untuk mendapatkan data-data yang optimal tentang keadaan suatu daerah eksplorasi sehingga dapat memperkecil kemungkinan kegagalan dalam pemboran eksplorasi. Operasi eksplorasi mencakup semua kegiatan yang meliputi suatu pembelajaran atau studi tentang keadaan suatu daerah untuk menentukan kemungkinan sebagai tempat terakumulasinya migas yaitu dengan melakukan studi geologi dan geofisik. Dengan melakukan kegiatan studi atau kegiatan eksplorasi geologi dan geofisik maka dapat diperkirakan tentang keadaan petroleum sistemnya, yang meliputi estimasi batuan induk (source rock), jalur migrasi hidrokarbon, waktu migrasi, batuan reservoirnya, bentuk perangkap, dan batuan penutupnya, sehingga dapat diperkirakan berpotensi atau tidaknya suatu wilayah untuk menjadi tempat terakumulasinya hidrokarbon. Dari data geologi seorang drilling engineer membuat perencanaan pemboran, sesuai dengan batuan yang nanti akan di tembus per kedalamannya, serta pembuatan hole geometri yang meliputi pemilihan ukuran casing, bit, kedalaman casing. Data geologi meliputi : data permukaan, data atas permukaan, data petrologi. Letak geografis dan keadaan geologi suatu lapangan akan berpengaruh terhadap pemilihan rig yang akan digunakan dan biaya yang akan dikeluarkan, jika tempat untuk lokasi pemboran yang diperkirakan ada cadangan minyak atau gas yang cukup potensial dan tempat tersebut masih merupakan suatu tempat yang dianggap liar maka dengan sendirinya kita perlu membuat tempat tersebut menjadi tempat yang memungkinkan terlaksananya operasi pemboran.

Besarnya kapasitas rig merupakan kemampuan suatu rig untuk dapat memenuhi kebutuhan tenaga selama operasi pemboran. Sistem tenaga dalam operasi pemboran terdiri dari power suplay equipment, yang dihasilkan oleh mesin – mesin besar yang biasa dikenal dengan nama “prime mover” dan distribution equipment yang berfungsi untuk meneruskan tenaga yang diperlukan untuk mendukung jalannya kegiatan pemboran. Banyak tipe dari pembangkit tenaga yang telah dipakai atau yang telah dipertimbangkan untuk operasi pemboran. Diantaranya adalah mesin uap (steam engine), internal combution, electric, turbine, free piston engine dan kombinasi dari tipe uap tersebut. Rig tidak berfungsi dengan baik jika distribusi tenaga yang diperoleh tidak mencukupi. Sebagian besar tenaga yang dihasilkan kemudian didistribusikan untuk peralatan utama rig dan pendukungnya.

Perhitungan kapasitas rig dimulai dari perhitungan pada sistem angkat. Pada sistem angkat ini diperhitungkan besarnya beban yang harus ditanggung oleh menara saat menaikkan dan menurunkan rangkaian drill string dan casing string.

Beban vertikal merupakan sebagian beban yang berpengaruh pada menara pemboran. Beban ini meliputi berat drill string. Berat rangkaian casing string, dan beratan dari block group. Beban horisontal bekerja pada menara adalah akibat berat stand yang bersandar dan beban akibat pengaruh angin. 

Perhitungan tegangan pada kabel pemboran dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu, tegangan pada fast line dan tegangan pada dead line. Dalam keadaan statis besarnya tegangan fast line (TF) dan dead line (TD) adalah sama. 

Perhitungan ton-miles untuk mengetahui cutt-off pada saat adnya round trip rangkaian pipa pemboran yang terjepit atau memotong kabel yang telah lemah.

Beban total pada menara adalah jumlah dari beban vertikal, tegangan pada fastline, tegangan pada deadline, dan berat pada hook block. Besarnya horse power yang digunakan sistem angkat telah memperhitungkan faktor efisiensi prime mover sebesar 0,85. 

Pada sistem putar berfungsi untuk memutar rangkaian pipa bor dan juga memberikan beratan di atas pahat untuk membor suatu formasi. Dari sistem putar ini dihitung besarnya rotation per minute dan horse power. Meja putar harus diputar dibawah nilai RPM kritis agar rangkaian tidak putus. Peralatan putar ditempatkan pada lantai bor di bawah crown block dan di atas lubang bor. Peralatan ini terdiri dari rotary table, master bushing, kelly bushing dan rotary slip. Sistem putar ini membutuhkan tenaga dari prime mover yang dihubungkan dengan rotary table dengan menggunakan chain atau belt melalui drawwork. Namun saat ini dalam sistem putar umumnya menggunakan top drive yang merupakan gabungan dari rotary table, swivel dan kelly. 

Sistem sirkulasi merupakan komponen utama dari operasi pemboran yang mempengaruhi keberhasilan dari suatu operasi pemboran. Sistem sirkulasi mempunyai kegunaan yang hampir sama dengan kegunaan sistem lumpur. Secara umum lumpur pemboran dapat disirkulasikan dengan urutan sebagai berikut: lumpur dalam steel mud pit dihisap oleh pompa - pipa tekanan – stand pipe – rotary hose – swivel head – kelly – drill pipe – drill collar – bit – annulus drill collar – annulus drill pipe – mud line/flow line, shale shaker – steel mud pit – dihisap pompa kembali dan seterusnya. Dari sistem sirkulasi ini didapatkan :

  1. Kecepatan Pengakatan Cutting. 
  2. Kecepatan Kritik. 
  3. Tipe Aliran yang Terjadi.
  4. Frictional Pressure Loss untuk Aliran Turbulen.
  5. Pressure Loss pada Sistem Sirkulasi.
  6. Perhitungan Horse Power. 
Horse power total adalah jumlah seluruh horse power yang digunakan dalam seluruh sistem, mulai dari sistem angkat sampai dengan sistem sirkulasi. Setelah hasil dari kebutuhan operasi diketahui kemudian dilakukan perbandingan antara kapasitas rig sebenarrnya dengan kebutuhan operasi. Apabila kapasitas rig tidak mampu memenuhi kebutuhan operasi, dalam hal ini kebutuhan operasi lebih besar dari kapasitas rig yang ada, maka perusahaan wajib mengganti tipe rig, atau memodifikasi prime mover yang ada.

Sistem pencegahan sembur liar (blow out preventer) dipasang untuk menahan tekanan dari lubang bor. Peralatan ini disediakan pada operasi pemboran karena peramalan tekanan tidak selalu memungkinkan. Apabila formasi mempuyai tekanan yang besar dan kolom lumpur tidak dapat mengimbanginya maka akan terjadi “kick”, yaitu intrusi fluida formasi yang bertekanan tinggi yang masuk ke dalam lubang bor. Kick yang tidak terkendali dapat mengakibatkan terjadinya blow out. Jadi blow out selalu diawali dengan adanya kick. Blow Out Preventer (BOP) system berfungsi untuk menutup ruang annular antara drill pipe dan casing bila terjadi gejala kick. Sistem peralatan ini bekerja secara pneumatic (dengan menggunakan udara dan gas, biasanya dipakai) dan secara mekanik.

Estimasi biaya pemboran dihitung untuk memastikan dan memperkirakan berapa biaya operasi pemboran yang akan dikeluarkan. Penghitungan biaya pemboran dimulai dari profil sumur, konstruksi sumur bor merupakan profil yang memperlihatkan program casing penyemenan, dan komplesi sumur. Konstruksi sumur perlu direncanakan seakurat mungkin dengan mempertimbangkan keadaan geologi bawah permukaan, jenis material konstruksi dan efisiensi peralatan dan tempat serta rencana pemboran dan produksi selanjutnya, berapa banyak casing yang akan digunakan, semen serta lumpurnya. Data spesifikasi rig digunakan untuk mengetahui seberapa besar horse power yang akan digunakan agar mampu mendukung seluruh bagian yang ada di atas rig. Data yang dimaksud meliputi tipe rig, power rating, kapasitas hook, ketinggian lantai bor, drawwork yang bekerja, pompa lumpur, kapasitas traveling block. Dari data tersebut seorang drilling engineer mampu menentukan rig yang akan digunakan. 

Data drilling program, meliputi spesifikasi dari casing, ukuran bit, data semen, mud program, drilling hazard, dan semuanya itu tergantung pada lamanya operasi pemboran yang akan dilaksanakan. Data drilling program merupakan kedalaman versus waktu operasi, mulai dari rig up sampai rig realease. Semua prospek yang telah dipilih serta dinilai dalam suatu system penilaian, kemudian dipilih untuk dilakukan pemboran eksplorasi. Maka semua prospek ini haruslah dibuat prognosis. Pronogsis ini meliputi : lokasi yang tepat, kedalaman terakhir, latar belakang geologi, objektif atau lapisan reservoir yang diharapkan, kedalaman puncak formasi yang akan ditembus, dan jenis survai lubang bor yang akan dilakukan. Dalam prognosis ini juga harus dibuat suatu rencana mengenai berbagai hal seperti misalnya, alat bor yang akan dipakai, kapasitas kedalaman rencana pemboran, yaitu apakah akan dibor secara langsung sampai pada kedalaman akhir atau secara bertahap dengan berhenti pada kedalaman tertentu kemudian melakukan pemasangan casing dan dibor kembali dengan ukuran yang lebih kecil, dan sebagainya. Hal ini menyangkut ukuran bit yang akan dipakai, penempatan selubung (casing). Juga pelu dibuat rencana mengenai apakah dilakukan penggantian jenis lumpur dengan berbagai macam berat jenis mengingat berbagai macam tekanan formasi yang kita hadapi di dalam pemboran. Perkiraan biaya pemboran dipengaruhi oleh :

Ukuran dan Jenis Sumur yang Akan Dibuat
Dengan mengetahui jenis sumur yang akan dikembangkan dan completion yang digunakan, maka dapat diperkirakan peralatan-peralatan yang harus disewa, yang sudah ada dan yang harus dibeli . Biaya pemboran bisa diperkirakan dengan melihat biaya pemboran dari sumur -sumur dengan jenis yang hampir sama yang dikembangkan dulu.

Parameter yang Berpengaruh pada Biaya Pemboran
Posisi sumur yang akan dibuat, dengan mempertimbangkan posisi sumur yang akan dibuat bisa diperkirakan biaya :

  1. Pembuatan Jalan/ Fasilitas Transportasi yang Harus Disediakan.
  2. Pembuatan Lokasi dan Tempat Pemboran.
Biaya Peralatan , Material Pemboran, dan Rig yang Disewa
Perhitungan biaya sewa rig dilihat dari kapasitas prime mover yang dimiliki dengan kapasitas prime mover pada saat operasi. Sehingga selisih antara horse power yang terpakai dengan kapasitas horse power yang dimiliki rig bisa digunakan untuk menghitung besarnya biaya kerugian yang harus dibayar selama operasi pemboran. Material pemboran meliputi casing, lumpur, semen. Proses-proses uji sumur yang dilakukan ini meliputi mud logging, electric logging, DST, coring, supervisory.

Transportasi
Biaya transportasi untuk pelaksanaan operasi di lokasi pemboran yang bisa diperkirakan dari jumlah mobil yang ada, dan jumlah kru yang ada kemudian dipertimbangkan dengan membandingkan operasional transportasion sumur yang ada sebelumnya atau sumur dari lapangan yang lain.

Alat transportasi dapat mencakup harga untuk bagian dasar truk, tongkang, perahu, dan helikopter. Jarak yang jauh maka suatu kelompok memberi harga komersil atau menyewa pesawat untuk bisa di jadikan harga yang signifikan. Perhitungan biaya transportasi membutuhkan suatu perencanaan yang detail, pengetahuan tentang jarak antara alat dengan barang persediaan lokal dan karakter alat seperti standar dan ukuran kebutuhan.

Work Over
Operasi workover biasanya dilakukan dengan waktu temporary dan diprediksikan kapan harus dilakukan workover. Biaya yang dikenakan pada operasi workover biasanya tergantung dari masalah yang mungkin timbul akibat komplesi yang dilakukan pada sumur tesebut.


KESIMPULAN

  1. Tahapan eksplorasi geologi digunakan untuk mendapatkan data-data yang optimal tentang keadaan suatu daerah eksplorasi sehingga dapat memperkecil kemungkinan kegagalan dalam pemboran. Serta digunakan untuk perencanaan desain konstruksi sumur, dan data untuk dasar perencanaan pemilihan rig. 
  2. Keadaan geologi dalam hal ini letak geografis serta keadaan geologi dan reservoir suatu lapangan sangat berpengaruh terhadap pemilihan horse power dari rig yang akan digunakan. Jika target operasi berada di reservoir dengan kedalaman yang dangkal, maka kapasitas rig yang digunakan akan semakin kecil sehingga biaya yang dikeluarkan semakin kecil. Demikian juga sebaliknya semakin dalam reservoirnya maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar. 
  3. Kapasitas rig merupakan kemampuan suatu rig untuk dapat memenuhi kebutuhan dari operasi pemboran yang meliputi sistem angkat, sistem putar, dan sistem sirkulasi. 
  4. Rig yang kapasitasnya dibawah kebutuhan operasi di lapangan akan mengakibatkan terhambatnya suatu operasi pemboran dan menyebabkan problem pemboran, serta menghambat waktu dari proyek pengeboran. 
  5. Perhitungan kapasitas rig meliputi perhitungan beban horisontal, beban vertikal, perhitungan tegangan kabel, penentuan RPM kritis, kecepatan kritik dan kecepatan pengangkatan cutting, tipe aliran, besarnya frictional loss, dan besarnya total horse power yang dibutuhkan. 
  6. Weigth on bit yang tinggi dengan Rotation per minute yang rendah digunakan untuk formasi yang keras agar Rate of Penetration atau laju penembusan lebih optimum dan tidak cepat merusak mata bor. Sebaliknya untuk formasi yanng lunak digunakan WOB yang kecil dengan RPM yang rendah agar ROP lebih optimal. Ketiga parameter tersebut berkaittan dalam penentuan kapasitas rig, dalam hal ini horse power yang akan digunakan. ROP yang semakin besar menyebabkan biaya pemboran yang besar karena waktu yang diperlukan dalam program pemboran semakin lama. 
  7. Estimasi biaya pemboran dihitung untuk memastikan dan memperkirakan berapa biaya operasi pemboran yang akan dikeluarkan. 
  8. Selisih antara horse power yang terpakai dengan horse power yang dimiliki rig digunakan untuk perhitungan kerugian yang harus dibayar perusahaan minyak ke kontraktor penyedia rig. 
  9. Perkiraan biaya pemboran dipengaruhi oleh ukuran dan jenis sumur yang akan dibuat, biaya material yang diperlukan, biaya peralatan, bahan, dan rig yang disewa, transportasi, work over.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Drs. Herianto, Phd. yang telah memberikan bimbingan pada tugas karya ilmiah kepada kami sehingga saya dapat menyelesaikan papper ini dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA


  1. Koesoemadinata R. P. 1980. “Geologi Minyak dan Gas Bumi”. Bandung: ITB. Edisi Kedua. Jilid I dan II. 
  2. Adam Neil.,”Drilling Enginer, “A Completion Well Planing Approach”, Penn-Well Publishing, Tulsa, 1985. 
  3. Rubiandini Rudi., : ”Teknik Pemboran II”, Jurusan T. Perminyakan F.T.M, UPN “Veteran Yogyakarta, 1993. 
  4. Mc. Cain W. D. Jr. 1973. “The Properties of Petroleum Fluid”. Tulsa, Oklahoma: Penn Well Publishing Company. 
  5. Dake, P.L., “Fundamental of Reservoir Enginering”. Elsevier Science Publishing Company, Newyork , 1978.



Komprehensif
Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
S1 Teknik Perminyakan
Hanif Shulhan
NIM 113 070 157
2011



Apakah yang memisahkan kehidupan nyata dengan mimpi ? Jika kita dengan mudah dapat hidup dalam "dunia tak nyata" selama bermimpi, hal yang sama dapat terjadi di dunia yang kita diami. Ketika kita terbangun dari sebuah mimpi, kitai berpikir bahwa kita kembali ke "kehidupan nyata". Anggapan bahwa mimpi adalah khayalan dan dunia sadar adalah dunia sesungguhnya, merupakan kebiasaan dan praduga. 

Manusia tidak hanya memilik tubuh fisik yang nyata, tetapi tubuh astral (fluidal) yang halus dan tidak kelihatan. Penelitian juga menemukan bahwa tubuh astral bisa berada di luar tubuh fisik. 

Sarjana kimia Carl Freiherr v Reichenbach (1788-1869) mengadakan 13.000 percobaan dengan 100 orang dikamar gelap selama 10 tahun. Ia berhasil membuktikan bahwa orang orang dalam kegelapan itu memancarkan sinar halus. Penelitian itu ditertawai orang, tetapi kemudian diperkuat oleh sarjana Prancis, Motandon (1927) dan de Rochas menegaskan tubuh astral merupakan tubuh primer yang mengatasi kematian. 

Adanya tubuh astral juga sudah diajarkan oleh Theophrastus Paracelsus (1493-1541) sarjana tersohor dalam bidang alam dan kedokteran. Kemudian Valentin Kirlian berhasil memotret sinar-sinar yang keluar dari tubuh manusia dan dinamakannya aura. Bahwa semua makhluk berhayat memilik tubuh energetis yang disebut bioplasma. 

Teori Quantum yang diungkapkan oleh Max Planck (1858-1947) , Neil Borh (1885-1962) dan Wener Heisenberg (1901-1976) mengatakan bahwa Quantum adalah bagian elementer terkecil, bersifat gelombang energi atau korpuskel. 

Energi Quantum bukan linier memanjang sambung menyambung tetapi loncatan Quantum. Materi akhirnya tidak ketat, tetapi merupakan lingkaran daya dari bagian bagian energi terkecil. Faham fisika Quantum ini membuat pengertian bahwa kematian tubuh ketat-fisik belum tentu merupakan kematian manusia secara menyeluruh. 

Bisa saja suatu saat kita dibangunkan dari kehidupan di bumi — yang kita anggap hidup kita yang sekarang — sebagaimana kita dibangunkan dari sebuah mimpi. Titik awal pendekatan ini adalah bahwa "dunia luar" yang terbentuk dalam persepsi kita hanya sebuah respons yang diciptakan oleh sinyal-sinyal elektris. 

Kita ini sebenarnya adalah “pesawat penerima” yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi kaleidoskopik, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil dari superhologram itu. 

Paradigma holografik juga mempunyai implikasi bagi sains-sains “keras” seperti biologi. Keith Floyd, seorang psikolog di Virginia Intermont College, mengatakan bahwa jika realitas yang konkrit tidak lebih dari sekadar ilusi holografik, maka tidak benar lagi pernyataan yang mengklaim bahwa otak menghasilkan kesadaran. Alih-alih, justru kesadaranlah yang menciptakan perwujudan dari otak– termasuk juga tubuh dan segala sesuatu di sekitar kita yang kita tafsirkan sebagai fisikal. 

Sesungguhnya, salah satu hal paling mengherankan tentang proses berpikir manusia adalah bahwa setiap butir informasi tampaknya dengan seketika berkorelasi-silang dengan setiap butir informasi lain– ini merupakan sifat intrinsik dari hologram. Oleh karena setiap bagian dari hologram saling berhubungan secara tak terbatas satu sama lain, ini barangkali merupakan contoh terbaik dari alam tentang suatu sistem yang saling berkorelasi. 

Jika semua kejadian fisik yang kita ketahui, pada hakikatnya adalah persepsi virtual, bagaimana dengan otak kita? Karena otak kita adalah bagian dari dunia fisik seperti halnya lengan, kaki atau objek lain, maka otak pun seharusnya merupakan persepsi virtual seperti semua objek lainnya. 

Ketika otak dianalisa, yang ditemukan hanya lipida dan protein, molekul yang juga terdapat pada organisme lain. Berarti di dalam sepotong daging yang kita sebut "otak", tidak ada apa pun yang dapat digunakan untuk mengamati citra, membangun kesadaran atau mencipta seseorang yang kita sebut "saya". Siapa gerangan "saya" kalau begitu ? 

Bahwa sesuatu yang berpikir, melihat, mendengar dan merasa adalah jatidiri sejati. Jatidiri sejati ini "hidup" dan dia bukan materi atau citra materi. Wujud non-jasadi ini berhubungan dengan segala persepsi duniawi dengan menggunakan citra tubuh kita. 

Wujud non-jasadi ini adalah "jiwa". 

Pada tingkatan yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan. 


(Sumber : Muklis Gumilang On Facebook) 



Albert Einstein mengatakan, “Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil berbeda akan tetapi menggunakan cara-cara yang sama.”

Thinking Outside The Box - Berpikir Di Luar Kotak sebagai suatu cara pikir baru di luar kebiasaan dari cara berpikir yang sebelumnya, cara berpikir yang berbeda dari orang-orang pada umumnya, cara berpikir kreatif, di luar kemampuan diri dan kelompok , dan cara berpikir yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh siapapun sebelumnya.

Cara berpikir di luar kotak pertama kali diperkenalkan oleh seorang matematikawan Inggris Henry Ernest Dudeney. Selain Henry, Edward de Bono juga mengartikan cara berpikir di luar kotak sebagai cara berpikir lateral. Bahwa seseorang tidak akan menemukan hal yang baru, hal yang tidak pernah ditemui dan dialami sebelumnya jika masih berada pada cara pemikiran yang sama. Seseorang harus berani mengambil keputusan untuk keluar dari ‘kotak’ tersebut, zona aman yang dimiliki, maka barulah hal-hal baru, inovasi, pengalaman, dan keberhasilan baru yang tidak terbayangkan bisa menghampiri diri seseorang. 

Satu hal yang paling sering dipertanyakan banyak orang adalah bagaimana caranya untuk bisa berpikir di luar kotak. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan seseorang untuk mampu berpikir di luar kotak dan akhirnya menemukan suatu hal yang baru dan berbeda dari apa yang pernah dialami dan diterima orang kebanyakan. 

Keluar Dari Zona Aman. Setiap orang cenderung menikmati dan terbuai akan zona aman yang sudah dimilikinya pada saat ini, namun itu akan menjadi penghalang dari sebuah inovasi. Karena pada saat seseorang menikmati posisinya di dalam kotak yang ia anggap sudah sangat nyaman, ia tidak akan pernah bisa melihat adanya peluang di luar sana untuk menemukan suatu terobosan baru atau sebuah peningkatan atas level hidupnya. Maka itu jika seseorang ingin bisa melihat dan berpikir di luar kebiasaan dan kerangka masalah yang ada, beranikan diri untuk keluar dari zona aman. 

Tinggalkan Keraguan. Seringkali keraguan berhasil membuat seseorang kembali berpikir di dalam kotak, karena adanya keraguan apakah hal-hal yang ada di luar kotak itu benar akan membawa peningkatan dalam kehidupan, apakah hal-hal di luar kotak bisa memberikan suatu inovasi baru dalam pekerjaan. Keragu-raguan itu harus ditinggalkan, sebab perlu diketahui bahwa tidak ada satupun hal di dunia ini yang tidak memiliki resiko. Jika seseorang ingin mengalami peningkatan dan terobosan dalam hidup, maka selain mulai keluar dari zona aman tersebut, yakinlah untuk memanjat kotak tersebut, dan segeralah keluar dari dalamnya, maka hal-hal baru yang tidak pernah terbayangkan akan ditemui. 

Dengarkan orang lain, terbuka, dan menerima. Orang-orang yang berpikir di dalam kotak adalah orang-orang yang tidak pernah mau menerima ide-ide yang bermunculan di sekitarnya. Mereka selalu memandang ide-ide tersebut tidak akan bekerja. Oleh karena itu, seorang yang mau untuk berpikir di luar kotak harus memiliki kerendahan hati untuk membuka dirinya, menerima pendapat dan ide-ide dari orang lain, kemudian mengolah nya dengan cara-cara di luar kerangka berpikir yang pada umumnya. 


Referensi: 
  1. Jr, W. G. (2004). Thinking Outside The Box: How Educational Leader Can Savely Navigate The Rough Waters of Change. Maryland: Scarecrow Education. 
  2. Rozaki, Z. (2011). The Big 4 In Life. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. 

(Sumber : Muklis Gumilang On Facebook) 



Papper Petroleum Engineering

Optimasi Pengurasan Cadangan Reservoir Dengan Metode Infill Drilling Berdasarkan Data Penilaian Formasi


ABSTRAK

Infill drilling ini dilakukan terutama pada lapangan minyak yang telah berproduksi, tetapi produksinya masih berada dibawah laju produksi yang efisien dari sisa cadangan yang ada. Dasar pertimbangan pelaksanaan infill drilling yaitu jumlah sisa cadangan minyak yang masih mungkin dapat diambil (remaining recoverable reserve) cukup besar, tetapi jumlah sumur produksi terlalu sedikit sehingga waktu yang diperlukan untuk mengangkat minyak dari reservoir sampai batas ekonomisnya menjadi lama.

Besarnya cadangan dan sisa cadangan, produktifitas formasi, jari-jari penyerapan sumur, jumlah dan pola sumur produksi, mekanisme pendorong reservoir, juga merupakan bahan pertimbangan penting pada pelaksanaan infill drilling. Data reservoir yang digunakan sebagai dasar pertimbangan perencanaan infill drilling diperoleh dari beberapa metode, yaitu metode coring, metode logging, metode tes sumur, dan metode tes produksi. Besarnya cadangan dan sisa cadangan diperoleh dari tiga macam metode perhitungan, yaitu metode volumetri, metode material balance dan metode decline curve.

Pada perhitungan jari-jari penyerapan didasarkan pada kondisi reservoir dan data-data tekanan dan produksi. Hal penting lainnya yang harus diketahui pada pelaksanaan infill drilling yaitu adanya interferensi sumur, karena jika telah terjadi interferensi pada sumur maka ditinjau baik dari segi teknis maupun dari segi ekonomis, infill drilling tidak dapat dilakukan. Peranan data bawah permukaan sangat penting digunakan untuk mengetahui distribusi cadangan, porositas, permeabilitas, serta data reservoir lainnya karena pada pelaksanaan infill drilling, tidak semua sumur-sumur infill yang direncanakan harus dilakukan pemboran. Prioritas pemboran sumur-sumur infill ditujukan pada daerah-daerah yang mempunyai sisa cadangan yang terbesar, dan mampu memberikan jari-jari pengurasan yang terbesar, sehingga pengurasan cadangan reservoir dengan metode infill drilling ini dapat memberikan hasil yang optimum.


DESKRIPSI ALTERNATIF


Dalam usaha meningkatkan produksi minyak yang terus mengalami penurunan tingkat produksi, dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan produksi minyak. Serangkaian pekerjaan stimulasi, workover, dan recompletion yang telah dilakukan pada sumur-sumur yang berproduksi ternyata tidak memberikan peningkatan laju produksi yang signifikan. Infill drilling merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan maupun mempertahankan laju produksi pada suatu lapangan minyak. Pemboran ini dilakukan terutama pada lapangan minyak yang telah berproduksi, tetapi produksinya masih berada dibawah harga laju produksi yang efisien (MER). Maximum efficiency rate (MER) merupakan tingkat laju produksi maksimum reservoir (sumur-sumur) dimana penggunaan tenaga pendorong reservoir tetap efisien.

Tujuan infill drilling adalah untuk mengangkat minyak dari bagian reservoir yang belum terkuras oleh sumur-sumur produksi yang sudah ada. Penambahan sumur-sumur hasil infill drilling bertujuan agar laju produksi meningkat dengan cara memperkecil spasi sumur yang telah ada. Spasi sumur merupakan besarnya jarak kedudukan suatu sumur dengan sumur lainnya yang sanggup memberikan pengurasan pada jarak alirnya. Tujuan penentuan spasi sumur ini adalah menentukan jumlah dan letak titik jari-jari penyerapan (re) untuk merencanakan suatu pola penyebaran sumur.

Sebagai contoh suatu pengembangan sumur-sumur infill pada lapangan minyak yang telah dikembangkan dengan metode produksi primer yaitu pada lapangan Raja di Sumatera Utara. Lapangan ini telah diproduksikan dari tahun 1940 sampai tahun 1978 dengan jumlah sumur produksi 36 dengan jarak spasi sumur 80 acre. Pada tahun 1976 sampai 1978 telah ditambahkan 6 sumur infill, sehingga produksi lapangannya meningkat dari 300 BOPD menjadi 3.500 BOPD.

Besarnya cadangan atau sisa cadangan, produktifitas formasi, jari-jari penyerapan sumur, jumlah sumur produksi, letak dan pola sumur produksi yang telah ada, merupakan pertimbangan pelaksanaan infill drilling. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diperoleh dari perhitungan yang didasarkan pada data reservoir dan data produksi yang diperoleh selama proses pemboran maupun selama proses produksi yang sedang berlangsung.

Besarnya cadangan atau sisa cadangan, produktifitas formasi, jari-jari penyerapan sumur, jumlah sumur produksi, letak dan pola sumur produksi yang telah ada, merupakan pertimbangan pelaksanaan infill drilling. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diperoleh dari perhitungan yang didasarkan pada data reservoir dan data produksi yang diperoleh selama proses pemboran maupun selama proses produksi yang sedang berlangsung.

Besarnya cadangan atau sisa cadangan dapat diperoleh dari tiga macam metode perhitungan, yaitu metode volumetri, metode material balance dan metode decline curve. Pada perhitungan besarnya cadangan ini juga digunakan peta isopach yang digunakan dalam penentuan luas dan volume dari reservoir yang mengandung minyak (volumetri) dan juga dapat digunakan dalam penentuan water oil contact (WOC) yang merupakan bottom dari suatu reservoir yang mengandung minyak serta gas oil contact (GOC) yang merupakan top dari reservoir yang mengandung minyak.

Perhitungan jari-jari penyerapan didasarkan pada kondisi reservoir dan data-data tekanan dan produksi, yang diperoleh dengan menggunakan persamaan Darcy untuk system aliran radial dan persamaan volumetri yang didasarkan pada data produksi, data logging, data PVT (pressure, volume, temperature), serta data analisis core. Jari-jari penyerapan yang dimaksud adalah jari-jari pengurasan efektif (re) untuk tiap sumur yang tidak berubah dan merupakan nilai maksimum dari jari-jari sumur pengurasan (rd) pada kondisi steady state. Apabila diantara sumur-sumur tersebut jari-jari pengurasannya telah bersinggungan, maka infill drilling tidak bisa dilakukan.

Data reservoir yang digunakan sebagai dasar pertimbangan perencanaan infill drilling diperoleh dari beberapa metode, yaitu metode coring, metode logging, metode tes sumur, dan metode tes produksi. Data reservoir yang berupa sifat fisik batuan diperoleh dari metode coring. Metode logging dilakukan untuk mendapatkan data-data reservoir yang berupa sifat fisik batuan reservoir secara langsung dilapangan dengan cara mengintepretasikan grafik fungsi kedalaman lubang bor menjadi besaran-besaran sifat fisik batuan reservoir. Metode tes sumur dilakukan untuk melengkapi data-data informasi yang diperoleh pada metode coring dan metode logging. Selain itu dari metode tes sumur juga diperoleh data-data lain, seperti tekanan, temperatur, dan jari-jari penyerapan. Metode tes produksi dilakukan untuk mendapatkan data-data produksi, seperti laju produksi minyak, laju produksi gas, laju produksi air, gas oil ratio (GOC), dan water oil ratio (WOR). Semua data tersebut digunakan dalam penentuan besarnya sisa cadangan reservoir, distribusi karakteristik reservoir, laju produksi, dan jari-jari penyerapan, yang nanti akan digunakan dalam penentuan jumlah dan letak sumur infill.

Beberapa tahap pemboran yang merupakan rangkaian usaha yang saling berkaitan untuk mendapatkan minyak di reservoir. Tahapan-tahapan pemboran yang dilakukan meliputi pemboran eksplorasi, pemboran deliniasi, pemboran pengembangan, dan pemboran produksi. Kaitan pada setiap tahapnya berupa penyampaian data-data yang digunakan sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan dalam pelaksanaan tahap pemboran selanjutnya. Pada infill drilling sangat jelas membutuhkan data-data pemboran sebelumnya karena pelaksanaan infill drilling dilakukan diantara sumur-sumur produksi yang telah ada.

Faktor penting dalam infill drilling meliputi penentuan jumlah serta tata letak sumur infill dari prioritas pemborannya. Pada penentuan jumlah serta tata letak sumur infill meliputi metode analisis penentuan titik penyerapan, penentuan jari-jari penyerapan, serta dasar-dasar penentuan tata letak sumur.

Metode analisis penentuan titik penyerapan ini berhubungan dengan pengaruh-pengaruh terhadap penentuan spasi sumur terhadap ultimate recovery, dan metode yang digunakan dalam penentuan spasi sumur. Dasar-dasar pada penentuan tata letak sumur infill ditentukan oleh dua pertimbangan, yaitu pertimbangan teknis dan pertimbangan ekonomis. Pertimbangan teknis meliputi besarnya sisa cadangan, jenis tenaga pendorong reservoir, karakteristik batuan reservoir, serta laju produksi dan kumulatif recovery yang diharapkan. Sedangkan pertimbangan ekonomis didasarkan pada pertimbangan nilai jual minyak yang dihasilkan dengan biaya pemboran dan komplesi yang dikeluarkan, biaya operasi produksi, biaya perawatan sumur, maupun biaya lainnya seperti biaya administrasi.

Penentuan jumlah sumur infill yang harus dibuat tergantung dari jumlah sumur-sumur produksi yang telah ada serta kumulatif produksi yang telah dihasilkan. Penentuan jumlah sumur infill ini dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu penetuan berdasarkan konsep MER dan penentuan berdasarkan tes sumur. Penentuan jumlah sumur infill berdasarkan konsep MER dilakukakan dengan cara membagi selisih antara besarnya MER dan rate kumulatif yang diperoleh, dengan besarnya rate rata-rata sumur infill. Perhitungan rate rata-rata sumur infill dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan aliran Darcy (untuk aliran steady sate). Penentuan jumlah sumur infill berdasarkan analisa tes sumur memerlukan data-data seperti luas daerah cadangan, serta luas daerah pengurasan. Data luas daerah cadangan diperoleh dari peta isopach, sedangkan luas daerah pengurasan diperoleh dari tes sumur.

Hal penting lainnya yang harus diketahui pada pelaksanaan infill drilling yaitu adanya interferensi sumur, karena jika telah terjadi interferensi pada sumur maka ditinjau baik dari segi teknis maupun dari segi ekonomis, infill drilling tidak dapat dilakukan. Untuk mengetahui ada tidaknya interferensi sumur yaitu dengan melakukan interference test.

Pada pelaksanaan infill drilling, tidak semua sumur-sumur infill yang direncanakan harus dilakukan pemboran, tetapi masih harus dipertimbangkan terhadap segi ekonomisnya, yaitu diusahakan agar pada pemboran sumur-sumur infill tepat pada daerah-daerah yang sanggup memberikan pengurasan terbesar sehingga dengan sedikit sumur infill dapat menutup kekurangan MER-nya. Prioritas ini ditujukan pada daerah-daerah yang mempunyai sisa cadangan yang cukup besar, porositas besar, permeabilitas besar, serta tekanan reservoir yang cukup besar pula, oleh karena itu peranan data bawah permukaan sangat penting digunakan untuk mengetahui distribusi cadangan, porositas, permeabilitas, serta data reservoir lainnya, dimana hal ini berhubungan dengan perencanaan profil sumur infill drilling. Profil sumur infill drilling ini akan menggambarkan letak titik sumur-sumur infill pada daerah dekat sumur-sumur produksi yang telah ada sebelumnya atau sumur-sumur infill drilling ini disebut juga sebagai sumur-sumur cluster. Pada perencanaan pemboran sumur cluster, pemboran dilakukan untuk mencapai target direservoir yang mempunyai sisa cadangan paling besar, dan mempunyai jari-jari pengurasan (re) yang paling besar pula, sehingga akan mempercepat perolehan minyak pada lapangan tersebut, sehingga optimasi pengurasan cadangan reservoir dengan metode infill drilling dapat memberikan hasil perolehan yang optimum.


KESIMPULAN

  1. Proses perencanaan infill drilling ini meliputi pertimbangan penggunaan infill drilling, penentuan jumlah sumur infill, penentuan tata letak sumur infill, penentuan pola sumur infill, dan prioritas infill drilling. 
  2. Pertimbangan pada perencanaan infill drilling yaitu jumlah sisa cadangan minyak yang masih mungkin dapat diambil (remaining recoverable reverse) cukup besar, tetapi jumlah sumur produksinya terlalu sedikit, sedangkan laju produksinya masih berada dibawah laju produksi yang efisien (MER) sehingga waktu yang diperlukan untuk mengangkat minyak dari reservoir sampai batas ekonomisnya menjadi lama.
  3. Perencanaan infill drilling didasarkan oleh adanya heterogenitas reservoir, yaitu penyebaran sifat fisik batuan dan fluida reservoir yang tidak merata, sehingga mengakibatkan hidrokarbon yang ada pada salah satu bagian direservoir tidak dapat diserap oleh sumur-sumur produksi yang telah ada, serta tidak terjadi interferensi antar sumur karena jika telah terjadi interferensi pada sumur maka dari ditinjau baik dari segi teknis maupun dari segi ekonomis, infill drilling tidak dapat dilakukan.
  4. Peran dari data penilaian formasi sangat diperlukan dalam penentuan pertimbangan-pertimbangan pada perencanaan infill drilling. Data tersebut antara lain digunakan untuk penentuan besarnya cadangan dan sisa cadangan, distribusi karakteristik reservoir, laju produksi, serta penentuan jari-jari penyerapan yang nantinya digunakan untuk menentukan jumlah dan tata letak sumur infill. Metode perolehan data penilaian formasi yang digunakan adalah metode coring, metode logging, metode tes sumur, dan metode tes produksi.
  5. Perencanaan pola penyebaran dan spasi sumur infill dipengaruhi oleh heterogenitas reservoir, jenis mekanisme pendorong reservoir, ketebalan dan kemiringan lapisan, dan distribusi permeabilitas lapisan produktif. 6. Prioritas penentuan tata letak pengurasan sumur infill didasarkan pada daerah yang mempunyai sisa cadangan minyak yang paling besar, dimana hal ini berhubungan dengan perencanaan profil sumur infill drilling, sehingga optimasi pengurasan cadangan reservoir dengan metode infill drilling dapat memberikan hasil perolehan yang optimum.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anonim. 1993. “Koloikum Sub A”, Fakultas Teknik Perminyakan UPN “Veteran” Yogyakarta.
  2. Abdassah, Doddy. 1997. “Pressure Transient Analysis”. Jurusan Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologo Mineral, ITB.
  3. Ahmed, Tarek. 2005. “Advanced Reservoir Engineering”. Wheeler Road, Burlington: Gulf Professional Publishing.
  4. Amyx, J. W., Bass M. D., Whiting R. L. 1960. “Petroleum Reservoir Engineering Second Edition”. New York, Toronto, London: Mc Graw Hill Book Company.
  5. Chaudhry, Amanat, U. 2004 “Oil Well Testing Handbook”. Wheeler Road, Burlington: Gulf Professional Publishing.
  6. Cole Frank W. 1969. “Reservoir Engineering Manual”. Houston, Texas: Gulf Publishing Company.
  7. Craft B. C. and Hawkins M. F. 1959. “Applied Petroleum Reservoir Engineering”. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Eglewood Cliffs.
  8. Earlougher, Robert C. 1997. “Advances in Well Test Analysis”. Monograph Series. Dallas: SPE.
  9. Gatlin C. T. 1960. ”Petroleum Engineering Drilling and Well Completion”. New Jersey: Prentice Hall Inc. Englewood Cliffts.
  10. Gould T. C., Sarem A. M. 1989. “Infill Drilling for Incremental Recovery”. Journal of Petroleum Technology. Vol 32, No. 3, Page 229-237.
  11. Helender D. T. 1983. “Fundamental of Formation Evaluation”. Tulsa: OCGI Publishing.
  12. Koesoemadinata R. P. 1980. “Geologi Minyak dan Gas Bumi”. Bandung: ITB. Edisi Kedua. Jilid I dan II.
  13. Lee W John. 1967. ”Well Testing”. New York, Dallas: Society of Petroleum Engineering of AIME. First Printing.
  14. Mathews C. S. and Russel D. G. 1967. “Pressure Buildup and Flow Test in Well”. New York, Dallas: SPE of AIME.
  15. Mc. Cain W. D. Jr. 1973. “The Properties of Petroleum Fluid”. Tulsa, Oklahoma: Penn Well Publishing Company.
  16. Pettijohn F. J. 1957. “Sedimentary Rocks”. Calcuta: Oxford and IBH Publishing Co. Second Edition.
  17. Rabia H. 2000. “Drilling Optimization”. Report on North Drilling Practices to Various Companies.
  18. Wyllie M. P., Gregor A. R., and Gardner G. H. F. “An Experimental Investigation of Factors Affecting Elastic Wave Velocities in Porous Media”.


Komprehensif

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
S1 Teknik Perminyakan
M. Bayu Ciptoaji
NIM 113 070 140
2011